Rabu, 29 Juni 2011

Peristiwa Pagi Gerimis

Lulu

 
Jika ada yang bertanya padaku, peristiwa apa yang tidak akan pernah kulupakan dalam hidupku? Maka, dengan hati yang seperti diiris-iris dan air mata yang tak bisa kutahan akan aku jawab. Peristiwa di pagi gerimis.
Sungguh, aku tak pernah melupakan peristiwa pagi gerimis itu. Pagi di saat aku dan ibu mencari makan. Saat aku mencoba bergelayut pada ranting pohon yang lain. Saat ibu baru saja bilang padaku, “Hati-hati, nak!” dan saat aku belum sempat menjawab, “ya,” karena bunyi DOR! Telah mendahuluiku, membuat aku menahan nafas sejenak, membuat tubuhku gemetar dan tanganku mencengkeram kuat ranting pohon.
Hanya suara ‘dor’, dan ibu menjerit dengan bersimbah darah bahkan isi perut yang terburai. Lalu ibu terjatuh ke tanah, bergerak sebentar kemudian diam.

“Ibuuuu…” tiba-tiba ketakutanku hilang. Aku berlari memeluk tubuh ibu yang berlumur darah. “Ibu, bangun! Ibu lihat aku. Ayo kita lari bu!”
“Hoiii! Pengecut, lu! Beraninya cuma sama binatang doang!”
Aku masih memeluk ibu saat seorang pembawa senapan yang mendakati kami tiba-tiba berbalik dan lari ketika mendengar seorang pemuda berteriak.
“Jangan lari pengecut!” pemuda itu masih berteriak. Tapi lelaki pembawa senapan itu telah lenyap di kejauhan.
“Monyet yang malang…” ucap pemuda itu. Kemudian dia berjongkok di dekatku dan memegang tubuh ibu.
“Mati…” begitulah ucapnya lirih. Kemudian dia mengelus kepalaku. Saat itulah airmataku tak bisa kutahan lagi. Dan aku hanya pasrah saat pemuda itu mengubur ibuku lalu membawaku pergi. Pulang ke rumahnya. Dan saat itu aku tahu kehidupanku mulai berbeda.

 * * *
Indra

“Mas, kok…bawa monyet?” Aku sudah menduga kalau istriku pasti akan terkejut.
“Iya. Ini anak monyet yang telah kutemukan di hutan tadi siang, kasihan, ibunya tewas ditembak pemburu. Dan aku pikir, lebih baik dia kita pelihara. Sekalian untuk menemani si kecil. Kau setuju?”
“Oh, anak monyet yang malang. Tentu saja aku setuju. Lucu juga dia. Ismail anak kita pasti senang sekali.” Kata istriku dengan mata berbinar.
“Syukurlah kalau kamu setuju. Bagaimanapun juga aku tak bisa membiarkan dia menjadi mangsa para pemburu. Makin meraja lela saja perdagangan binatang. Aku dengar-dengar monyet-monyet sudah berkurang jumlahnya akibat pemburuan liar. Kebanyakan dijual dan juga disewakan untuk topeng monyet. Sementara kita tampung sampai dia bisa dilepas kembali ke habitatnya.” Ucapku sambil meletakkan monyet itu di depan kami. Aku mengelus kepalanya dengan lembut.
“Dia pasti lapar, Mas. Sini biar kusuapi. Tadi aku beli pisang.” Kata istriku sambil mengupas pisang, mencuilnya dengan tangan lalu mendekatkan ke mulut monyet kecil itu.
“Oh ya, mas dia sebaiknya punya nama.”
“Kau punya usul?” tanyaku sambil melihat monyet yang mulai mengunyah pisang pelan-pelan.
“Gimana kalau kita panggil Lulu. Singkatan dari lucu dan lugu.”
“Itu nama yang keren.”
Dan begitulah mulai hari itu, keluarga kami diramaikan dengan anggota baru. Lulu. Tentu saja yang paling senang adalah Ismail anak kami. Meski awalnya dia takut namun lama-lama Lulu dan Ismail seperti dua sahabat dekat.
Lulu adalah monyet yang pintar dan lucu. Dia sering membantuku memetik kelapa dan sesekali ikut berdagang. Beberapa kali ada yang menawar ingin membeli dengan harga yang lumayan. Tapi tentu saja aku tak akan menjualnya. Lulu tetap menjadi bagian dari keluarga kami dan kami terus menjaganya hingga dia bisa mandiri.
Seminggu sekali aku membawanya ke kebun. Melatihnya sebisaku. Entahlah apa yang aku lakukan benar atau salah, tapi itulah yang bisa kulakukan untuk mempersiapkan masa depannya.

* * *

Rasanya baru kemarin peristiwa pagi gerimis saat aku menemukan Lulu. Kini, hari yang kurencanakan itu telah tiba. Aku tak menyangka akan seberat ini. kupikir semua akan dengan mudah. Aku melihat mata istriku berkaca-kaca sambil membujuk Ismail yang sesekali berteriak “Nggak mauuuuu. Nggak boleeeh!”
“Tapi Lulu harus kembali ke hutan, Sayang.” Ucapku istriku.
“Ya, Ismail. Lulu punya rumah yang sebenarnya. Seperti Ismail yang punya rumah di sini. Keluarga Lulu ada di hutan. Dan Lulu pasti akan bahagia jika bertemu keluarganya lagi.” Aku mencoba memberi pengertian.
“Tapi, Ismail sayang Lulu.” Ucap Ismail diantara isaknya sambil memeluk Lulu.
“Kalau Ismail sayang Lulu, berarti Ismail harus ikhlas ya, kalau Lulu kembali ke hutan. Lulu punya rumah sayang, dan dia sudah saatnya pulang.” Kata istriku sambil memeluk ismail dan Lulu.
Maka setelah berbagai bujukan dan kata-kata yang bisa dimengerti Ismail, kami berempat pergi ke hutan.
Pagi gerimis. Ini persis seperti saat aku menemukan Lulu dulu. Jujur, aku pun berat berpisah dengannya. Tapi aku tahu ini yang terbaik buat Lulu.
“Selamat berpisah lulu.” Kata istriku mencium Lulu.
“Jangan lupakan aku ya, Lulu?” kali ini Ismail dan Lulu berpelukan erat.
“Baik-baik di hutan ya? Hati-hati dengan pemburu.” Kataku sambil menggendong Lulu. Lalu aku berjalan agak masuk hutan dan menaruh Lulu pada batang pohon yang tumbang.
Dan pagi gerimis itu, kami meninggalkan hutan dengan mata yang basah.

 * * *
Lulu

Indra pergi setelah berbicara padaku dengan mata yang berkaca-kaca. Aku melihat istri Indra memeluk Ismail yang terisak. Mereka melambaikan tangan kepadaku dan aku membalasnya. Saat itu aku tahu, kalau lambaian tangan itu berarti perpisahan.
Matahari masih sembunyi di balik awan. Dan gerimis masih membasahi badanku. Masih kuingat dengan jelas peristiwa gerimis waktu aku kahilangan ibu. Saat itu yang aku tahu, manusia adalah mahkluk paling rakus di bumi ini. Karena selain mereka mengambil hutan-hutan kami, mereka juga sering menangkap teman-teman kami. Tapi Indra dan keluarganya merubah pandanganku. Mereka membuatku merasa nyaman dan merasa punya keluarga yang penuh cinta.

Dan kini di pagi dengan gerimis yang sama, aku hanya bisa memandang Indra, istrinya dan Ismail yang semakin menjauh. Ya, setelah aku kehilang ibu, aku juga kehilang mereka. Tapi aku tahu, atas nama cinta mereka telah mengembalikan aku ke habitatku. Hutan. Dan wajah mereka, senyum mereka, belaian sayang mereka, semua hal tentang mereka akan tetap di hatiku. Selamanya.

* * * 


Bersambung...

* * * * Choirul Huda * * * *
___________________________________________________________________

Sumber Artikel: Malam Kolaborasi Kompasiana;
Penulis: Shabrina Ws dan Choirul Huda
Sumber Foto: Google Images (1)
___________________________________________________________________

Tulisan terkait:

- Terima kasih Bapak dan Ibu Dosen, untuk Ilmu yang kalian berikan...








* * * Created By: http://roelly87.blogspot.com/ * * *

Wayang: Seni Budaya dan Imajinasi Anak Yang Terlupakan...

1303509061994091363
Kartun Wayang Indonesia


Ismail, anak pertamaku yang berusia empat tahun kalau mau tidur selalu minta ditemani, terkadang sama Mamanya atau juga sama saya sendiri. Menjelang tidur, ia selalu minta diceritakan dongeng atau kisah-kisah fable pengantar tidur.
Tapi pada suatu malam, ia tidak mau dibacakan dongeng lagi.
Ia berhenti untuk didongengkan Mamanya sebelum tidur.
"Ma, Iil ocen tiap alam mama celitain itu mlulu. Iil mau dicelitain jagoan cpidelmen cama dlagonbol".
(Mama, Ismail bosan setiap malam, mama cerita itu terus. Ismail mau diceritain jagoan Spiderman sama Dragon Ball).
Kata anakku dengan logat cadel sambil merengek, saat istriku hendak bercerita si Kancil yang cerdik.
Usut punya usut ternyata, siang hari saat ia bermain dengan teman-temannya, ia menonton film kartun Dragon Ball dan Spiderman.
Pantas saja...


* * *

Ia memaksa Mamanya untuk menceritakan dongeng tentang Son Go Ku, tokoh utama dalam serial Dragon Ball. Karuan saja istri saya jadi kelimpungan, sebab istri saya sama sekali tidak tahu tentang film kartun Dragon Ball, hanya sedikit mengenal Spiderman. Itu pun karena ia pernah menonton sekali di bioskop saat kami masih pacaran dulu.
Akhirnya, sayalah yang menggantikan sang istri untuk mendongengkan si kecil ini.
Sebelum memulai cerita, pikiran saya terbayang kenapa harus mendongengkan kisah dari luar negeri. Kenapa tidak dalam negeri saja?
Karena gawat kalau anak seusia itu sudah dicekoki budaya dari luar, nantinya setelah dewasa bisa-bisa menjadi asing pada budayanya sendiri. Lagipula Dragon Ball dan Spiderman tidak baik untuk dikonsumsi anak sekecil itu, sebab banyak adegan kekerasan seperti membanting dan membunuh lawannya.



13035093832032171057
Gatot Kaca, tidak kalah hebat dengan tokoh Kartun Mancanegara



Hmm.
Sambil memutar otak, saya menemukan ide untuk bercerita tentang wayang.
"Mail, Papah akan dongengin kamu kisah jagoan yang luar biasa hebat"
"Ga mau, Iil pengennya cama dlagonbol cama cpidelmen..."
"Eh, jangan salah. Yang mau papah ceritain ini lebih kuat dari Son Goku atau Spiderman. Malah kalau dibandingkan, lucuan ini". Ujarku merayu.
"api, jagoan yang papa clitain kuat ga? Kalo tadi iil liat felem dlagonbol bica telbang, dah gitu punya julus kamekamekame buat ngalain musuhnya"
"Yaaah, itu sih kecil. Jagoan Papa ini bisa terbang, bisa memanah, bisa ngeluarin jurus yang ada sinarnya, dah gitu bisa..." Ujarku sambil memancing Ismail.
"Bica apa pa? ayo dong clitain bial iil dengel" sambar anakku penasaran. Kena deh, pikirku.
"Jagoan ini orangnya biasa saja, ramah, dan baik hati. Terutama sering menolong kepada yang lemah. Tapi dia tidak suka dengan orang nakal, apalagi kalau yang jahat akan segera dikalahkan supaya tobat dan tidak berbuat jahat lagi."
"Tlus, kalo iil olang jaat apa baik pa?" Ujar anakku bertanya.
"Ismail itu anak Papah dan Mama yang baik, juga tidak nakal. Makanya dengarin Papa cerita ya, kalau sudah selesai Ismail harus tidur." Ucapku sembari melirik istriku yang tersenyum disamping Ismail.
"ya pa..." Jawab Ismail.


* * *


1303509273232845409
Tokoh Punakawan Asli Indonesia: Semar, Petruk, Gareng dan Bagong



Kemudian saya bercerita mulai dari Gatot Kaca, Arjuna, Wisanggeni, tak lupa saya selingi dengan tokoh-tokoh lucu Punakawan seperti Semar, Petruk, Gareng dan Bagong. Supaya ia semakin tertarik pada cerita wayang.
Dan ketika saya menoleh, Ismail sudah terlelap pulas.
Selesai tugas saya malam ini untuk mendongeng pada anak saya, tinggal mengumpulkan ide buat malam besok dan selanjutnya.
Rencana saya akan menuturkan kisah Malin Kundang, Si Pitung, Loro Jonggrang, Si Unyil dan Pak Raden, serta cerita lainnya yang berasal dari Indonesia. Agar imajinasi anak saya tetap berkembang seukuran usianya. Dan supaya  tidak lupa akan Adat, Budayanya sendiri dari derasnya cerita-cerita yang masuk dari luar negeri.


Hari ini, sudahkah Anda mendongeng untuk Anak?

* * *



Bersambung...

* * * * Choirul Huda * * * *
___________________________________________________________________
 
Sumber Artikel: kompasiana.com/roelly87; Wayang: Seni Budaya dan Imajinasi Anak Yang Terlupakan...

 
Sumber Foto: Google Images (3)
___________________________________________________________________

Tulisan terkait:

- Terima kasih Bapak dan Ibu Dosen, untuk Ilmu yang kalian berikan...








* * * Created By: http://roelly87.blogspot.com/ * * *

Senin, 27 Juni 2011

Maaf Cinta: Untuk "Saat Ini" Aku Sedang Menutup Diri...

 Pukul 15:25 wib.

"Jangan lupa, ya. Jam 7 malam nanti, lo jemput gw" ucap Mira kepadaku saat menjelang pulang dari kampus.
"Ya" jawabku datar, sembari menjalankan motor kesayanganku bercorak garpu tala. Kemudian, aku langsung meninggalkan gedung kampus dan juga Mira yang "mungkin" hatinya sedang berbunga-bunga.

* * *

Sudah beberapa minggu belakangan ini ada yang berubah dalam diriku. Entah mengapa, benih-benih cinta mulai tertanam kembali dalam lubuk hatiku yang paling dalam.

Semua berawal sejak pertemuan dengan Mira pada bulan Oktober 2010 lalu. Saat itu aku baru saja mengikuti perkuliahan di sebuah Perguruan Tinggi Swasta Terkenal di Jakarta Pusat.
Awalnya biasa saja, tetapi setelah mengenalnya. Semua telah berubah, Ia begitu perhatian terhadapku. Meskipun ia pun sangat baik dan ramah kepada semua orang, tetapi ada sesuatu yang spesial saat ia memberikan sesuatu kepada diriku ini...

Hari demi hari berlalu, tidak terasa sekarang sudah menjelang liburan Kuliah. Dan menginjak akhir dari Semester II. Aku dan dia pun semakin erat dan dekat. Tanpa merasa, saat jalan bareng dengannya, semua orang berkata bahwa aku dan Mira adalah pasangan yang setimpal dan sangat serasi...

Namun dibalik semua, itu, ada suatu kenangan masa silam yang semakin kucoba untuk melupakannya justru semakin kuat membelenggu hati, jiwa dan pikiran ini...

* * *



Awal Juli 2010.

Terakhir kalinya aku bertemu dengan seorang gadis berdarah Minang, di sebuah pantai bernama Caroline yang terletak di Kota Padang, Sumatera Barat.
Saat itu masih terngiang, ucapan terakhirnya ketika aku dan dia bertemu untuk terakhir kalinya.
"Maaf rul, bukan maksudku untuk memutuskan tali cinta kita berdua, namun ini adalah kehendak orang tuaku yang sudah tak dapat ditawar lagi atau dibantah...
Meskipun semua Keluarga membelaku dan sangat menentang perjodohan ini, namun karena ini adalah pilihan dari Kedua Orang tua ditambah lagi dengan aku adalah satu-satunya anak perempuan dalam trah keluarga. Aku sama sekali tidak bisa menolak..."

Kemudian ia memelukku dengan erat, diiringi air matanya yang tumpah deras bagaikan lukisan air terjun di lembah arau yang sangat pedih.
Matahari terlihat sudah condong kebarat, dan karang tempat kami berpijak menjadi saksi bisu dalam kenangan diantara aku dan dia.
Hingga akhirnya, aku melangkahkan kaki untuk mencoba menguatkan hati yang lara ini.
Dari kejauhan terlihat, Sosok Gadis itu dengan wajah sendu memandangi sambil mengucapkan kata terakhir, "maafkan aku, rul..."

* * *

Dan kini, hampir sebelas bulan berlalu semenjak peristiwa tersebut. Aku kembali merasakan sebuah doktrin yang bernama "jatuh cinta"

* * *

Pukul 19:45 wib

Aku berduaan dengan Mira dalam sebuah Cafe di kawasan Kemang, Jakarta Selatan.
Entah ada perasaan yang janggal saat aku menatapnya dengan lekat, sorot matanya yang sayu dan lembut kembali mengingatkanku pada seseorang yang sekarang berada di seberang sana.

"rull, kenapa ngelamun? Ada yang aneh dengan diri gue? Atau cara berpakaian gw kurang bagus atau malah terkesan norak?" Tanya Mira kepadaku seraya memecahkan keheningan malam yang indah ini.

"Hmm, ga ada yang aneh. Cuma gw lagi merenungin aja..." Ujarku singkat.
"Kirain gw kenapa, soalnya gw liat tatapan lo itu jauh banget. Tapi ga apa2 lah. Oh ya, ada yang ingin gw tanyakan sama lo malam ini juga, berkaitan dengan..." Tanya Mira, dengan menodongkan suatu pertanyaan entah pernyataan yang membuat lidahku menjadi kaku.
"Lo mau nanya apa sama gw?"
"Jiaah, koq lo aneh banget sih beberapa hari belakangan ini. Beda banget dengan lo yang dulu yang sangat ramah juga supel. Sekarang lo kesannya dingin banget. Emangnya ada apa dengan lo, rul?"

"Ga ada apa-apa, oh ya katanya lo mau nanya, nanya apaan tuh?" Jawabku dengan berbohong.
"Ga nyangka ya, kita temanan udah hampir setahun. Gimana menurut lo tentang gw?"
"Menurut gw, lo adalah salah satu teman yang sangat berkesan dan juga sangat spesial bagi gw..."
"Hmm, terima kasih atas sanjungannya. Tapi kok cuma 'salah satu'?"
"Bagi gw, lo adalah teman terbaik yang berada di sisi gw saat gw ngerasain suka maupun duka, dan gw beruntung banget mempunyai teman seperti lo..."

"To the Point, aja rul. Sekarang gw mau nanya, gimana perasaan lo terhadap gw?"
Mendengar perkataannya barusan, membuat jantungku kembali terhentak. Sedikitpun aku tidak menyangka bahwa gadis seperti Mira yang lemah lembut dan anggun berani mengutarakan perasaannya langsung terhadap seorang cowok angin-anginan sepertiku ini...

"Perasaan gw sama lo adalah..."
"Apa rul?" jawab aja terus terang, kenapa harus malu-malu.
Ucap Mira sambil tertawa, melihat tingkahku yang lugu.

"Mungkin juga Mir, atau..."

Kenapa mesti ragu? Jawab aja dengan jujur perasaan lo sama gw. Apakah lo Mencintai gw atau ga? Apakah lo menganggap hubungan kita selama ini adalah sebuah cinta atau hanya persahabatan biasa???

"Dua-duanya" ujarku mantap.

Kenapa jawabannya sangat Ambigu? Apakah harus gw yang mengatakan bahwa selama ini gw sangat mencintai lo...!
Sambil tersenyum, Mira memegang erat telapak tanganku.

Untuk sementara, aku hanya bisa memandangi wajahnya yang ayu dan menawan. Hingga akhirnya, aku mengucapkan beberapa kalimat satir yang banyak digubah beberapa pujangga dahulu:

"Mira, terus terang gw juga mencintai lo. Tapi Maaf, untuk saat ini gw masih menutup diri, dan belum dapat membuka hati gw untuk lo dan juga yang lainnya"

Dengan berat hati, aku melepaskan genggaman tangannya. Dan perlahan kemudian meninggalkan cafe itu bersama sebuah kenangan...

* * *

Ah, luka yang lama belum sembuh betul, 
mengapa harus ditambah dengan serpihan garam 
yang membuat luka ini semakin perih...

Ah, apakah sejarah manusia "memang" selalu berulang...

* * *







* * * * * Choirul Huda * * * * *

___________________________________________________________________

Tulisan ini untuk seseorang nun jauh disana...

Ilustrasi: Google Image

___________________________________________________________________








* * * Created By: http://roelly87.blogspot.com/ * * *

Selasa, 21 Juni 2011

Cinta itu...

cinta...
sebuah kata, namun memiliki berjuta makna
sebuah kata, namun memiliki berjuta rasa

cinta, itu...



berawal dari suka menjadi sayang
rasa sayang itu tumbuh dengan sebuah cinta

3 unsur yang memiliki perbedaan makna namun tak dapat dipisahkan

* * *

disaat aku tak menginginkanmu
kau hadir dengan membawa cinta
kau berikan aku sebuah keteduhan dalam jiwa
hingga aku terlena dalam manja

namun disaat aku mulai menyambut cinta itu...
kau telah pergi...!
meninggalkan aku seorang diri
dalam kebisuan

tenggelam dalam duka dan derita
kau pergi bersamanya karena kesalahanku
yang tak perdulikanmu...

maafkanlah diri ini yang terlambat menyambut cintamu
namun sayang
nasi telah menjadi bubur
semua takkan kembali lagi
yang lalu biarlah berlalu
aku akan terus berjalan tanpamu...

* * *


Cinta ini seperti Kanvas yang dipenuhi lukisan - lukisan indah
Cinta ini seperti rumput liar yang tetap tumbuh walau di injak-injak oleh orang yang melewatinya
Citan itu seperti bintang jatuh, membuat yang melihatnya terbuai beribu harapan
Cinta itu datangnya tidak diketeahui namun pergi meninggalkan luka...


* * *





* * * * * Choirul Huda * * * * *

___________________________________________________________________

Puisi karya Mahasiswi LP3I Tomang-Caringin:

Vhedi Edogawa



___________________________________________________________________








* * * Created By: http://roelly87.blogspot.com/ * * *

Sabtu, 18 Juni 2011

Terima kasih Bapak dan Ibu Dosen, untuk Ilmu yang Kalian Berikan...

Tidak terasa, ternyata hampir dua semester, Kami menghabiskan waktu bersama Bapak dan Ibu Dosen sekalian. Waktu yang sangat sebentar bagi kami untuk mendapatkan Ilmu sekaligus bertatap muka dengan Kalian semua.

Meskipun hanya sesaat, namun kami tidak lupa dengan apa yang telah Bapak dan Ibu berikan, bagi masa depan kami. Berikut ini adalah beberapa patah kata, yang masih kami ingat dalam memori kecil yang sangat dangkal ini...

Ibu Yoeliastuti: Kegagalan bukan berarti akhir dari segalanya
Bapak Abdul Gofur: Belajarlah Disiplin Sejak Dini...
Bapak Wahyono: Jenius itu 99% Kerja Keras, dan hanya 1% Bakat atau Keturunan
Bapak Mustofa: Mensia-siakan hidup, bagaikan Penyusutan dalam membuat laporan Kas
Bapak Triono: Hijau Berasal dari warna Biru, tetapi Hijau lebih Dikenal dibanding warna yang sesungguhnya. Begitu juga dalam kehidupan
Bapak Desuarnur: Dalam belajar, tidak ada kata tidak bisa, yang ada hanya Bisa, bisa dan bisa!!!
Bapak Syahrul: Orang Sukses Berawal Dari kegagalan
Bapak Salis: Belajar Memanage Diri sendiri, sebelum mengatur orang lain
Bapak Edi: Saya Mampu, Orang Lain Mampu, Kamu pun Harus Mampu
Bapak Helmi: Saya Mengajar sekaligus Belajar dari Anda
Ibu Widiarti: Ingat rumus IF bertingkat, jika ingin mengambil sebbuah resiko dalam hidup

* * *

Dan, inilah Siluet bergambar yang tidak akan pudar selama hidup berlangsung:

Foto Bareng dengan Dosen Management



Bersama Dosen Bussiness Corespondence


Belajar Management Principles


Dosen Computer for Office II



Dosen Computer for Office


Dosen General English


Saat Mata Kuliah Akuntansi


Mata Kuliah Personality Development

* * *

Meskipun semester depan, Bapak dan Ibu sudah tidak mengajar lagi. Tetapi apa yang telah Kalian sampaikan selama setahun belakangan ini akan kami ingat sampai kapanpun.
Sebab, sehari mengajar dan mendidik kami, Mahasiswa. Seumur hidup TETAP menjadi Dosen bagi kami dan juga sebagai Panutan untuk kami dilain waktu…

Dan juga Mohon maaf yang sebesar-besarnya bilamana dalam aktifitas belajar, kami sering membuat kegaduhan dan keonaran: Tidak mengerjakan tugas, tidak memakai Seragam dengan benar (Dasi, Jas dan kemeja serta Sepatu), Sering Absen, serta Ribut di Kelas. Walau bagaimanapun, kami masih terus belajar untuk menjadi dewasa seperti yang Bapak dan Ibu inginkan.

Terima kasih banyak untuk apa yang diberikan kepada kami, anak DidikMu.


* * *






Bersambung...

* * * * * Choirul Huda * * * * *

___________________________________________________________________

___________________________________________________________________

Tulisan terkait:








* * * Created By: http://roelly87.blogspot.com/ * * *