Tampilkan postingan dengan label LP3I. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label LP3I. Tampilkan semua postingan

Senin, 27 Juni 2011

Maaf Cinta: Untuk "Saat Ini" Aku Sedang Menutup Diri...

 Pukul 15:25 wib.

"Jangan lupa, ya. Jam 7 malam nanti, lo jemput gw" ucap Mira kepadaku saat menjelang pulang dari kampus.
"Ya" jawabku datar, sembari menjalankan motor kesayanganku bercorak garpu tala. Kemudian, aku langsung meninggalkan gedung kampus dan juga Mira yang "mungkin" hatinya sedang berbunga-bunga.

* * *

Sudah beberapa minggu belakangan ini ada yang berubah dalam diriku. Entah mengapa, benih-benih cinta mulai tertanam kembali dalam lubuk hatiku yang paling dalam.

Semua berawal sejak pertemuan dengan Mira pada bulan Oktober 2010 lalu. Saat itu aku baru saja mengikuti perkuliahan di sebuah Perguruan Tinggi Swasta Terkenal di Jakarta Pusat.
Awalnya biasa saja, tetapi setelah mengenalnya. Semua telah berubah, Ia begitu perhatian terhadapku. Meskipun ia pun sangat baik dan ramah kepada semua orang, tetapi ada sesuatu yang spesial saat ia memberikan sesuatu kepada diriku ini...

Hari demi hari berlalu, tidak terasa sekarang sudah menjelang liburan Kuliah. Dan menginjak akhir dari Semester II. Aku dan dia pun semakin erat dan dekat. Tanpa merasa, saat jalan bareng dengannya, semua orang berkata bahwa aku dan Mira adalah pasangan yang setimpal dan sangat serasi...

Namun dibalik semua, itu, ada suatu kenangan masa silam yang semakin kucoba untuk melupakannya justru semakin kuat membelenggu hati, jiwa dan pikiran ini...

* * *



Awal Juli 2010.

Terakhir kalinya aku bertemu dengan seorang gadis berdarah Minang, di sebuah pantai bernama Caroline yang terletak di Kota Padang, Sumatera Barat.
Saat itu masih terngiang, ucapan terakhirnya ketika aku dan dia bertemu untuk terakhir kalinya.
"Maaf rul, bukan maksudku untuk memutuskan tali cinta kita berdua, namun ini adalah kehendak orang tuaku yang sudah tak dapat ditawar lagi atau dibantah...
Meskipun semua Keluarga membelaku dan sangat menentang perjodohan ini, namun karena ini adalah pilihan dari Kedua Orang tua ditambah lagi dengan aku adalah satu-satunya anak perempuan dalam trah keluarga. Aku sama sekali tidak bisa menolak..."

Kemudian ia memelukku dengan erat, diiringi air matanya yang tumpah deras bagaikan lukisan air terjun di lembah arau yang sangat pedih.
Matahari terlihat sudah condong kebarat, dan karang tempat kami berpijak menjadi saksi bisu dalam kenangan diantara aku dan dia.
Hingga akhirnya, aku melangkahkan kaki untuk mencoba menguatkan hati yang lara ini.
Dari kejauhan terlihat, Sosok Gadis itu dengan wajah sendu memandangi sambil mengucapkan kata terakhir, "maafkan aku, rul..."

* * *

Dan kini, hampir sebelas bulan berlalu semenjak peristiwa tersebut. Aku kembali merasakan sebuah doktrin yang bernama "jatuh cinta"

* * *

Pukul 19:45 wib

Aku berduaan dengan Mira dalam sebuah Cafe di kawasan Kemang, Jakarta Selatan.
Entah ada perasaan yang janggal saat aku menatapnya dengan lekat, sorot matanya yang sayu dan lembut kembali mengingatkanku pada seseorang yang sekarang berada di seberang sana.

"rull, kenapa ngelamun? Ada yang aneh dengan diri gue? Atau cara berpakaian gw kurang bagus atau malah terkesan norak?" Tanya Mira kepadaku seraya memecahkan keheningan malam yang indah ini.

"Hmm, ga ada yang aneh. Cuma gw lagi merenungin aja..." Ujarku singkat.
"Kirain gw kenapa, soalnya gw liat tatapan lo itu jauh banget. Tapi ga apa2 lah. Oh ya, ada yang ingin gw tanyakan sama lo malam ini juga, berkaitan dengan..." Tanya Mira, dengan menodongkan suatu pertanyaan entah pernyataan yang membuat lidahku menjadi kaku.
"Lo mau nanya apa sama gw?"
"Jiaah, koq lo aneh banget sih beberapa hari belakangan ini. Beda banget dengan lo yang dulu yang sangat ramah juga supel. Sekarang lo kesannya dingin banget. Emangnya ada apa dengan lo, rul?"

"Ga ada apa-apa, oh ya katanya lo mau nanya, nanya apaan tuh?" Jawabku dengan berbohong.
"Ga nyangka ya, kita temanan udah hampir setahun. Gimana menurut lo tentang gw?"
"Menurut gw, lo adalah salah satu teman yang sangat berkesan dan juga sangat spesial bagi gw..."
"Hmm, terima kasih atas sanjungannya. Tapi kok cuma 'salah satu'?"
"Bagi gw, lo adalah teman terbaik yang berada di sisi gw saat gw ngerasain suka maupun duka, dan gw beruntung banget mempunyai teman seperti lo..."

"To the Point, aja rul. Sekarang gw mau nanya, gimana perasaan lo terhadap gw?"
Mendengar perkataannya barusan, membuat jantungku kembali terhentak. Sedikitpun aku tidak menyangka bahwa gadis seperti Mira yang lemah lembut dan anggun berani mengutarakan perasaannya langsung terhadap seorang cowok angin-anginan sepertiku ini...

"Perasaan gw sama lo adalah..."
"Apa rul?" jawab aja terus terang, kenapa harus malu-malu.
Ucap Mira sambil tertawa, melihat tingkahku yang lugu.

"Mungkin juga Mir, atau..."

Kenapa mesti ragu? Jawab aja dengan jujur perasaan lo sama gw. Apakah lo Mencintai gw atau ga? Apakah lo menganggap hubungan kita selama ini adalah sebuah cinta atau hanya persahabatan biasa???

"Dua-duanya" ujarku mantap.

Kenapa jawabannya sangat Ambigu? Apakah harus gw yang mengatakan bahwa selama ini gw sangat mencintai lo...!
Sambil tersenyum, Mira memegang erat telapak tanganku.

Untuk sementara, aku hanya bisa memandangi wajahnya yang ayu dan menawan. Hingga akhirnya, aku mengucapkan beberapa kalimat satir yang banyak digubah beberapa pujangga dahulu:

"Mira, terus terang gw juga mencintai lo. Tapi Maaf, untuk saat ini gw masih menutup diri, dan belum dapat membuka hati gw untuk lo dan juga yang lainnya"

Dengan berat hati, aku melepaskan genggaman tangannya. Dan perlahan kemudian meninggalkan cafe itu bersama sebuah kenangan...

* * *

Ah, luka yang lama belum sembuh betul, 
mengapa harus ditambah dengan serpihan garam 
yang membuat luka ini semakin perih...

Ah, apakah sejarah manusia "memang" selalu berulang...

* * *







* * * * * Choirul Huda * * * * *

___________________________________________________________________

Tulisan ini untuk seseorang nun jauh disana...

Ilustrasi: Google Image

___________________________________________________________________








* * * Created By: http://roelly87.blogspot.com/ * * *

Selasa, 21 Juni 2011

Cinta itu...

cinta...
sebuah kata, namun memiliki berjuta makna
sebuah kata, namun memiliki berjuta rasa

cinta, itu...



berawal dari suka menjadi sayang
rasa sayang itu tumbuh dengan sebuah cinta

3 unsur yang memiliki perbedaan makna namun tak dapat dipisahkan

* * *

disaat aku tak menginginkanmu
kau hadir dengan membawa cinta
kau berikan aku sebuah keteduhan dalam jiwa
hingga aku terlena dalam manja

namun disaat aku mulai menyambut cinta itu...
kau telah pergi...!
meninggalkan aku seorang diri
dalam kebisuan

tenggelam dalam duka dan derita
kau pergi bersamanya karena kesalahanku
yang tak perdulikanmu...

maafkanlah diri ini yang terlambat menyambut cintamu
namun sayang
nasi telah menjadi bubur
semua takkan kembali lagi
yang lalu biarlah berlalu
aku akan terus berjalan tanpamu...

* * *


Cinta ini seperti Kanvas yang dipenuhi lukisan - lukisan indah
Cinta ini seperti rumput liar yang tetap tumbuh walau di injak-injak oleh orang yang melewatinya
Citan itu seperti bintang jatuh, membuat yang melihatnya terbuai beribu harapan
Cinta itu datangnya tidak diketeahui namun pergi meninggalkan luka...


* * *





* * * * * Choirul Huda * * * * *

___________________________________________________________________

Puisi karya Mahasiswi LP3I Tomang-Caringin:

Vhedi Edogawa



___________________________________________________________________








* * * Created By: http://roelly87.blogspot.com/ * * *

Sabtu, 18 Juni 2011

Terima kasih Bapak dan Ibu Dosen, untuk Ilmu yang Kalian Berikan...

Tidak terasa, ternyata hampir dua semester, Kami menghabiskan waktu bersama Bapak dan Ibu Dosen sekalian. Waktu yang sangat sebentar bagi kami untuk mendapatkan Ilmu sekaligus bertatap muka dengan Kalian semua.

Meskipun hanya sesaat, namun kami tidak lupa dengan apa yang telah Bapak dan Ibu berikan, bagi masa depan kami. Berikut ini adalah beberapa patah kata, yang masih kami ingat dalam memori kecil yang sangat dangkal ini...

Ibu Yoeliastuti: Kegagalan bukan berarti akhir dari segalanya
Bapak Abdul Gofur: Belajarlah Disiplin Sejak Dini...
Bapak Wahyono: Jenius itu 99% Kerja Keras, dan hanya 1% Bakat atau Keturunan
Bapak Mustofa: Mensia-siakan hidup, bagaikan Penyusutan dalam membuat laporan Kas
Bapak Triono: Hijau Berasal dari warna Biru, tetapi Hijau lebih Dikenal dibanding warna yang sesungguhnya. Begitu juga dalam kehidupan
Bapak Desuarnur: Dalam belajar, tidak ada kata tidak bisa, yang ada hanya Bisa, bisa dan bisa!!!
Bapak Syahrul: Orang Sukses Berawal Dari kegagalan
Bapak Salis: Belajar Memanage Diri sendiri, sebelum mengatur orang lain
Bapak Edi: Saya Mampu, Orang Lain Mampu, Kamu pun Harus Mampu
Bapak Helmi: Saya Mengajar sekaligus Belajar dari Anda
Ibu Widiarti: Ingat rumus IF bertingkat, jika ingin mengambil sebbuah resiko dalam hidup

* * *

Dan, inilah Siluet bergambar yang tidak akan pudar selama hidup berlangsung:

Foto Bareng dengan Dosen Management



Bersama Dosen Bussiness Corespondence


Belajar Management Principles


Dosen Computer for Office II



Dosen Computer for Office


Dosen General English


Saat Mata Kuliah Akuntansi


Mata Kuliah Personality Development

* * *

Meskipun semester depan, Bapak dan Ibu sudah tidak mengajar lagi. Tetapi apa yang telah Kalian sampaikan selama setahun belakangan ini akan kami ingat sampai kapanpun.
Sebab, sehari mengajar dan mendidik kami, Mahasiswa. Seumur hidup TETAP menjadi Dosen bagi kami dan juga sebagai Panutan untuk kami dilain waktu…

Dan juga Mohon maaf yang sebesar-besarnya bilamana dalam aktifitas belajar, kami sering membuat kegaduhan dan keonaran: Tidak mengerjakan tugas, tidak memakai Seragam dengan benar (Dasi, Jas dan kemeja serta Sepatu), Sering Absen, serta Ribut di Kelas. Walau bagaimanapun, kami masih terus belajar untuk menjadi dewasa seperti yang Bapak dan Ibu inginkan.

Terima kasih banyak untuk apa yang diberikan kepada kami, anak DidikMu.


* * *






Bersambung...

* * * * * Choirul Huda * * * * *

___________________________________________________________________

___________________________________________________________________

Tulisan terkait:








* * * Created By: http://roelly87.blogspot.com/ * * *

Sabtu, 04 Juni 2011

Rocky Hotel Dalam Kenangan Bersama Gadis Minang II

Epilog


"Tunggu...!" ujarku seraya memecah keheningan malam.
Namun ia tetap tidak mau menghentikan langkahnya.


* * *


Pukul 23:15 wib. 

Aku bersua dengannya di sebuah hotel berbintang empat di tengah kota Padang, Sumatera Barat.
Tidak sengaja dalam pertemuan itu, hingga terlukis sebuah diorama nan lara.

"Jangan samakan aku dengan dia, dia jauh lebih baik dibandingkan diriku" Ucapan itu terlontar sekilas dari sebuah bibir mungil nan ranum dari sang Gadis.
"Lebih baik bukan berarti ia yang cocok untukku" jawabku.

"Namun setidaknya, aku tidak mau mengganggu lagi hubungan kamu dengannya. Biarlah hubungan kita yang lalu menjadi sebuah kenangan..." Gadis itu memotong cepat.

"Aku tahu, kamu mengalah. Tapi bukan berarti harus mengorbankan diri. Perasaan itu tidak dapat dibohongi.  Apalagi tentang Cinta." Ucapku lagi.

"Tidak rul, aku merasa cukup sampai disini saja. Aku melihat kamu jauh lebih bahagia bersama dirinya. Dibandingkan..."

"Mengapa kamu harus bandingkan dirinya dengan dirimu? Aku hanya berteman biasa, tidak lebih. Hanya sekedar berbagi pengalaman, karena kami sama-sama perantau"

"Tetapi, beberapa hari belakangan aku melihat ada yang janggal diantara kalian berdua" Jawabnya dengan memadukan antara riak gelombang dengan tetesan air mata.

"Dan, ia itu lebih menang segala hal dibandingkan diriku; materi, kecantikan, sifat, dan lainnya. Tidak ada yang bisa kubanggakan dari diriku dibandingkan dirinya..." Ujarnya menambahkan.

"Ia memang baik dan lebih darimu, namun Cinta tetaplah Cinta... Ia tidak dapat Tersirat, apalagi Tersurat! Dan lagi tidak semua yang terbaik yang menjadi Juara. Contoh saat kita menonton bola final kemarin, MU memenangkan pertandingan melawan Cheslea itu karena John Terry gagal dalam mengeksekusi penalti akibat terpeleset. Dan bukan berarti MU lebih superior..." Jawabku lugas seraya menganalogikannya dengan pertandingan bola final liga champions 2008 lalu.

"mungkin, mungkin..." Ia (Gadis itu) tidak dapat berkata apa-apa lagi, dari raut wajahnya terlihat sendu, seperti awan kelabu yang hendak menurunkan hujan dari langit...


* * *
Prolog

dan, setelah itu;
terjadilah apa yang seharusnya tidak terjadi diantara kami.


* * *


Jakarta, 2 Juni 2011 (23:15 wib)
Bersambung...

* * * * * Choirul Huda * * * * *

___________________________________________________________________


Artikel: Catatan di Facebook
___________________________________________________________________

Tulisan terkait:








* * * Created By: http://roelly87.blogspot.com/ * * *