Tampilkan postingan dengan label Gadis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gadis. Tampilkan semua postingan

Minggu, 27 Maret 2011

antara aku, kau dan si kecil…

"tabir gelap yang dulu hinggap lambat laun mulai terungkap 
labil tawamu tak pasti tangismu
jelas membuat aku sangat  ingin mencari; 
...apa yang tersembunyi dibalik manis senyummu 
apa yang tersembunyi dibalik bening dua matamu... 
dapat kutemui mengapa engkau tak pasti 
lalu aku coba untuk mengerti 
saat engkau tiba disimpang jalan 
kau bimbang tentukan arah tujuan"
* * *

1301147929153475633
seraut wajah



Bandung, 2 Mei 2009


masihkah kau ingat tentang masa lalu kita dahulu

saat engkau tersenyum renyah dihadapanku

masihkah kau ingat tentang masa lalu kita dahulu
saat pertama kali kita bertemu

aku malu-malu sewaktu memegang erat tanganmu

dan muka mu memerah saking malunya

bahkan, untuk memandang pun
kau tak sanggup

atau ketika kita berteduh dibawah atap sebuah bangunan tua yang reyot dan berdebu

atau juga sewaktu kita hujan-hujanan dikala senja
dan engkau membisiki ditelingaku:

* * *

"i love walking in the rain
because no one knows
i'm crying..."

* * *

itulah masa-masa terindah dahulu

sewaktu kita masih susah senang seirama bersama-sama

namun semua kini lenyap sudah

seperti kemarau setahun disapu hujan seminggu

- - - * * * - - -


Jakarta 14 Maret 2011



kini setelah sekian lama kita terpaut

engkau mulai merekah rajutan cinta lagi

yang dahulu dianggap tabu dan semu

kini bagaikan mimpi dapat kembali

* * *

kau selalu menitik beratkan dengan sebuah senyum dari si kecil kita

yang kau jadikan tameng untuk dapat bersua

kau selalu memberi alasan tentang senyumnya yang lucu dan imut

padahal semenjak ia berumur 2 bulan,

engkau entah kemana berada

dan juga menghilang tanpa jejak

* * *

namun, kini

setelah bahtera yang kau singgahi untuk sementara, karam

kau malah kembali denganku

mencoba balik lagi ke pelabuhan yang dulu sering

kau singgahi...

* * *

1301148085464572335
saat-saat bersama


"terlalu indah dilupakan terlalu sedih dikenangkan
setelah aku jauh berjalan dan kau ku tinggalksn 
betapa hatiku bersedih mengenang kasih dasn sayangmu
setulus pesanmu kepadaku engkau kan menunggu
...andaikan kau datang kembali
jawaban apa yang kan ku beri 
adakah jalan yang kau temui 
untuk kita kembali lagi...
bersinarlah bulan purnama bersinarlah terus sampai nanti 
lagu ini ku-akhiri"

* * *


----------Choirul Huda----------

Jumat, 18 Maret 2011

Ironi Seorang Kupu-kupu Malam...

dosakah yang ia kerjakan
sucikah mereka yang datang
kadang dia tersenyum dalam tangis
kadang dia menangis didalam senyuman...


Irma tersenyum senang, saat salah satu pelanggan setianya, Pak Rizal memberi segepok uang ratusan ribu rupiah. Dengan sumringah ia berkata "Terima kasih Om, atas kunjungan yang luar biasa ini, semoga Om Rizal senang dengan apa yang saya berikan malam tadi..."

Pak Rizal pun melayangkan pujian kepada Irma, dan sebelum ia pergi tak lupa mengecup pipi kiri dari Irma, sembari berkata "He he he, saya suka dengan service yang kamu berikan. Lusa nanti saya akan balik lagi, kalau bisa lebih hot daripada malam ini. Ok."

Dengan langkah lebar, Rizal keluar dari kamar hotel dan segera pergi ke kantornya di kawasan Sudirman untuk kembali bekerja seperti biasa.

Sedangkan Irma, hanya bisa memandang kearah pintu hotel dengan bibir tersenyum, tetapi tatapan matanya menerawang jauh kedepan...

 * * *

Jakarta, Desember 2009.

Awal mulanya, Irma tidak percaya akan sikap Ardi, kekasih yang sangat dicintai sejak 2 tahun lamanya. Dengan mudahnya, Ardi meninggalkan Irma disaat usia kandungannya sudah mendekati 7 bulan. Padahal, akibat pergaulan bebas mereka berdua yang kebablasan, Irma sudah banyak menderita lahir maupun batin. Seperti dikeluarkan dari Kampus, dijauhi teman teman sepergaulan, dan yang lebih parah adalah diusir oleh Orang tuanya, ketika mengetahui Irma hamil sebelum menikah. Saat itu perasaan Irma sangat hancur, dan hampir bunuh diri kalau saja tidak dicegah oleh Ardi. Ardi pula yang meyakini bahwa ia siap bertanggung jawab dengan menjadi Ayah dari bayi yang dikandungnya itu. Tapi itu dahulu, sekarang sikap Ardi sudah berubah seratus delapan puluh derajat. Dengan teganya, Irma dicampakkan bagai seonggok sampah yang sudah terbuang di pinggir jalan.

Irma hanya bisa mengelus dada, saat itu pikiran utamanya adalah bagaimana ia dapat menghidupi bayi yang dikandungnya, dan ketika ia melahirkan nanti.

Ia harus mencari nafkah sendiri, karena Orang tua maupun keluarga sudah menutup pintu untuk menerimanya kembali. Hingga akhirnya ia gelap mata, dan memulai suatu tindakan yang sangat tidak disetujui oleh nuraninya:

Yaitu menjadi seorang Pelacur...

Tiada pilihan lagi, karena berbagai cara sudah dilakukan Irma demi sesuap nasi. Ia pernah melamar menjadi sekretaris di berbagai perusahaan, karena ia mempunyai bekal pernah kuliah. Tetapi satupun tiada yang diterima, mungkin karena melihat penampilannya yang sudah berbadan dua. Dan tidak memungkinkan untuk melakukan pekerjaan. Ia juga pernah menghubungi Ardi dan mendatangi rumahnya, sayang keluarga Ardi sudah pindah ke luar kota, karena tidak mau mendapat aib darinya. Bahkan untuk menghidupi dirinya sehari - hari ia sering mendatangi teman-teman lama yang simpati kepadanya, dan meminjam uang dari mereka. Tapi itu hanya sememntara, dan tidak bisa berlangsung lama.

Sampai suatu ketika, ia bertemu dengan Neyla, teman sejak sekolah menengah dulu,  yang juga bernasib sama dengannya. Kemudian Neyla memberikan sebuah Alternatif untuk bertahan hidup dari kerasnya kota Jakarta ini, yaitu sebagai Kupu-kupu malam...

Meskipun, awalnya Irma tidak ingin, tetapi setelah berpikir panjang dan merenungkan bagaimana caranya supaya nanti ia bisa mempunyai uang untuk biaya persalinan kelak...



kupu-kupu liarku terbanglah kepadaku
hinggaplah dihatiku dan hisap sari cintaku
biar indah tubuhku dijamah-dijamah orang-orang
tapi cinta tulusmu
harus jadi milikku...


* * *

Bersambung...




________________________________________________________________________
Lirik Lagu: Peterpan dan Slank
Gambar: Google
*Tulisan ini tidak bermaksud untuk Memvonis atau menyerang pribadi seseorang. Hanya curahan hati seorang kawan yang kini terperosok dalam lembah hitam.
________________________________________________________________________

Senin, 14 Maret 2011

Gadis bernama len...

Sumatera Barat...


len...

hanya tiga huruf kecil
yang selama ini selalu membelenggu hatiku
entah mengapa dalam beberapa tahun belakangan ini
selalu saja terbayang tentang dirimu

Sumatera Barat, 5 Agustus 2008

sungguh, aku sama sekali tidak menduga
bahwa pertemuan yang biasa saja
berakibat luar biasa...

senyum_mu yang manis
tawa_mu yang renyah
dan kerlingan mata_mu
yang terasa indah
meski sedikit sendu...

walau pertemuan itu hanya pertama dan (mungkin) yang terakhir
tapi,
sungguh ku tak menyesalinya...

tiada perjamuan yang tak berakhir:
tiada pertemuan tanpa perpisahan
mengapa harus meratapi perpisahan
kalau mengharap pertemuan?

ataukah dengan perpisahan
kita baru mengerti
akan artinya pertemuan...

atau...

* * *