Senin, 21 Februari 2011

Dragon Ball, kenangan akan masa kanak-kanak yang tak terlupakan...



Yuupz, siapa yang tidak mengenal komik dan serial kartun yang sangat populer ini. Di Indonesia sendiri telah beredar komiknya sampai 42 jilid, dan sudah beberapa puluh kali mengalami cetak ulang. Sedangkan serial kartun ditayangkan setiap hari minggu selama 10 tahun berturut-turut. Banyak remaja yang sangat menyukai Son Goku, tokoh utama dalam Dragon Ball, dan  juga ada beberapa yang suka dengan Trunks (versi masa depan), karena ganteng dan gagah. Tidak sedikit pula yang menyukai akan sifat jahat dan dingin dari Bezita, sang Pangeran Saiya.

Kemarin saya iseng iseng membereskan lemari, dan tidak sengaja melihat komik Dragon Ball volume 42 (Bye-bye Dragon Ball), saya terharu dan sampe hampir menitikkan air mata ketika membaca "Dahulu kala... Cerita berawal dari pertemuan kecil ini akhirnya kembali ke masa kini. Selanjutnya anda bisa sekali-sekali menengok mereka, mungkin itu juga cukup menyenangkan... Begitulah, dan inilah akhir cerita." Sungguh teringat akan masa kecil dahulu.

Ketika saya SD, setiap hari minggu selalu menunggu jam 9 pagi untuk menonton film kartun ini di Indosiar, padahal mainnya hanya setengah jam, itupun dengan iklan yang lebih dari 15 menit. Dan saya paling benci kalo ada tayangan tinju karena membuat saya tidak bisa menyaksikan film favorit ini.
Begitu juga dengan komiknya, dari SD hingga kini saya telah mengoleksinya secara lengkap dari no 1 sampai 42. Pertama beli sewaktu tahun 97, masih berharga rp 3.500, kemudian naik menjadi 6.500 ditahun 1999, hingga sekarang berharga rp 17.500. Masih saya beli, sebab banyak edisi yang dipinjam saudara dan teman terus tidak dikembalikan, terpaksa saya menggantinya dengan mencari di Pasar Senen yang lebih murah (bekas). Terkadang juga sampe saya rela tidak jajan hanya untuk mengumpulkan uang buat membeli komik ini. Mungkin kalau dikumpulkan sudah ada sekitar 70an komik Dragon Ball yang saya koleksi, baik itu dari Elexmedia maupun terbitan Rajawali Grafiti (almarhhum).

Yang membuat saya teramat menyukai Dragon Ball adalah karena kisah Persahabatan diantara tokoh-tokohnya. Semua berawal dari musuh, hingga akhirnya mereka bahu membahu membela Son Goku. Seperti Pikkoro, awalnya adalah musuh yang sangat membeci Son Goku karena telah membunuh ayahnya, Raja Iblis Pikkoro. Ia rela bekerja sama dengan Son Goku demi menyelamatkan bumi dari serbuan Bangsa Saiya. Dan juga Ialah yang mendidik Son Gohan, anak Son Goku, ketika Son Goku tewas. Son Gohan diajari ilmu silat untuk menjadi Pendekar yang tangguh dan bisa diandalkan ketika melawan Bezita serta Nappa.

Begitu juga dengan Bezita, pada awal kedatangannya ke bumi mempunyai tujuan untuk membunuh Kakarot (Goku dalam bahasa Saiya), Bezita sangat membencinya karena ia merasa sebagai Pangeran Saiya yang terkuat dan tidak ingin disaingi oleh Goku. Tetapi bahu membahu ketika melawan Cell, juga sempat menyelamatkan Goku saat hampir tewas dibunuh Android No 19 (Android = manusia buatan, bukan sistem operasi Google). Meskipun sempat "kumat" ketika dengan sengaja mau dihipnotis Babidy, karena rasa ingin bertarung yang kuat dengan Goku. Tetapi akhirnya Bezita rela mengorbankan dirinya dengan meledakkan tubuh untuk membunuh Bhu, Walaupun mati sia-sia, akhirnya Bezita dan Goku bersatu (fusion) untuk menjadi Ksatria terkuat di Alam semesta dengan mengalahkan Bhu.

Dragon Ball atau ketujuh bola naga tidak pernah dipergunakan secara sembarangan dan percuma, semua untuk kelangsungan hidup manusia, kecuali sewaktu Raja Iblis Pikkoro yang minta dikabulkan awet muda serta sewaktu minta celana dalam wanita di bab 2.

Dalam komik Dragon Ball, terdapat beberapa peristiwa yang melibatkan pertarungan hampir disemua tokoh. Seperti:
- Melawan tentara Red Ribbon
- Melawan Raja Iblis Pikkoro
- Menghalau serangan Bangsa Saiya
- Melawan Freeza di Planet Namec
- Melawan Cell serta Manusia buatan Dr Gero
- Melawan Bhu dan Babidy cs

Diantara musuh-musuh dalam Dragon Ball, yang terkuat adalah:


1. Bhu atau Manusia Iblis Bhu.
Musuh ini sangat kuat, dan yang dapat mengalahkannya hanya Jurus Bola Semangat. Ketika Bhu masih gemuk, sebenarnya masih dapat dikalahkan Son Goku pake Super Saiya 3, tetapi Goku membiarkannya untuk Generasi muda yang turun tangan. Tapi saat Bhu sudah menjadi Bhu yang sebenarnya, semua menjadi kacau. Bhu ini sempat menghisap Gotenks dan Super Gohan.

Iblis Bhu versi Gagal

2. Cell. 
Meskipun sebagai manusia buatan, tetapi Cell tercipta dari sari pati berbagai jagoan serta penjahat sewaktu pertarungan Son Goku melawan Bezita, Pikkoro dan Freeza. Son Goku sampai menyerah dan tidak sama sekali tidak dapat mengimbangi kekuatan Cell yang sempurna. Kalahnya Cell adalah saat Son Gohan marah dan mengeluarkan kemampuan yang sesungguhnya.

3. Android No 16.
Ini adalah manusia buatan versi gagal, dan menurut penciptanya Dr Gero, ia dapat menghancurkan dunia. Sempat mengalahkan Cell dalam wujud tidak sempurna, akhirnya tewas ketika ingin meledakkan bom yang ada ditubuhnya sendiri.

4. Android No 17 & No 18
Sepasang Manusia buatan kembar kakak-adik. Pada awalnya sangat kuat, sampai-sampai membuat Trunks yang dapat membunuh Freeza, terkapar dengan satu pukulan. Juga membuat Bezita menjadi frustasi, karena mengetahui super saiya tidak bisa berbuat apa-apa terhadap manusia buatan.

5. Freeza.
Makhluk terkuat di alam semesta sebelum Goku menjadi Super Saiya, Freeza telah menghancurkan Planet Bezita, dan membunuh semua penghuninya. Tetapi kalah mengenaskan oleh Goku, dan akhirnya bersama Ayahnya tewas setelah tubuhnya dipotong-potong oleh Trunks.





Untuk saat ini hanya inilah yang dapat saya tuliskan, semoga dilain waktu saya dapat memposting Tokoh Jagoan terkuat serta Jurus-jurus terhebat di Dragon Ball. Dan juga silsilah akar rumput dari Karakter yang ada, mulai dari Dragon Ball, Dragon Ball Z, hingga Dragon Ball GT...

Ah, semua karena Judi...

Judi, itulah empat huruf yang membuat aku dan sebagian besar kaum Adam yang melakukannya menjadijatuh Miskin dan Susah hidupnya.
Semenjak kecil, aku sudah terpikat dengan sebuah Permainan terlarang tetapi sangat memikat yaitu Judi. Tidak di hanya Meja Judi, Kasino, Bola tangkas, Biliar, Warung Kopi, Tug Boat,Kapal Pesiar, sampai di Lorong-lorong yang gelap yang berada di sudut daerah pemukiman padat penduduk.
Berawal dari sekadar Iseng-iseng, coba-coba hingga berlanjut menjadi sungguh-sungguh mempertaruhkan hidup hanya untuk Judi…

Aku ingat sewaktu pertama kali mengenal Judi adalah ketika berusia 10 tahun. Saat itu didaerah ku sedang musim Ikan Cupang, yang berawal dengan taruhan rp 500 perak hingga berlanjut sampai sekarang Puluhan Juta rupiah.
Ah, Judi itu membuatkumenjadi Gila.
Tidak ubahnya dengan seorang User*, akan ketergantungannya terhadap Narkoba.
Tidak beda jauh dengan seorang Pria yang gemar sekali berganti pasangan demi memuaskan nafsu duniawinya.
Bukankah Judi, Minuman Keras/ Narkoba, dan Main Perempuan adalah satu paket yang dinamakan gaya hidup Hedonisme? Yang sangat dilarang oleh Agama!

Ah, tetapi pada kenyataannya sangat sulit untuk menghilangkan kebiasaanku dari yang namanya Judi.
Kecuali, kecuali dan kecuali jikalau nanti sudah tidak mempunyai suatu apapun, atau ketika musim kemarau mengalami keguguran hingga banyak merontokkan dedaunan.

Banyak macamnya Perjudian yang aku ikuti, seperti:
Kartu empat (Kyu-Kyu)
Gaplek (Kartu Domino)
Remi
Capsah (Kartu 13)
Koprok (?)
Billiar
Poker
Sampai yang memakai mesin seperti Mickey Mouse, Bola tangkas dan Jackpot.

Tetapi bukan hanya itu saja, masih banyak Permainan biasa saja yang bisa menghasilkan Judi, seperti:
Piala Dunia (taruhan Bola)
Adu Ikan Cupang
Adu Jangkrik
Poker Zynga di Facebook
Permainan Monopoli dan Ular Tangga
Tebak Manggis!

1297112772131506678

Yah itulah Manusia, kalau otaknya sudah Ngeres, Media apaun bisa dijadikan untuk Berjudi…! Tidak hanya yang berupa Kartu dan Dadu, hewan dan buah Manggis pun bisa dijadikan perantara sebagai Permainan Judi!
Karena Judi, saya bisa membeli Barang-barang Mewah
Karena Judi, saya bisa berpesiar ke Luar Negeri
Karena Judi, saya bisa menikmati hidup menjadi seperti Raja di Makau…
Tetapi:
Karena Judi pula hidup saya menjadi tidak karuan
Karena Judi, saya tidak bisa meneruskan Kuliah S2 Hukum
Karena Judi Pula, saya sempat menjadi Gelandangan di Makau selama beberapa Minggu!
Dan, Karena Judi saya hidup miskin seperti ini…

Sekarang setelah saya terbangun dari sebuah Mimpi yang panjang, akhirnya saya tersadar akan kesalahan saya yang lalu. Meskipun belum terlambat untuk memperbaikinya, tetapi saya sudah tidak memiliki suatu apapun yang dapat saya kenakan, kecuali beberapa stel pakaian lusuh yang dengan setia melekat ditubuh saya yang telah lama tidak disemprot dengan apa yang dinamakan Parfum.

Penyesalan selalu datang terlambat, kawan dan kerabat yang dahulu setia menemaniku untuk berpesiar, kini banyak yang telah menutup pintu rapat-rapat. Bahkan Keluarga sendiri pun enggan menemuai, karena ingat akan kedosaanku sewaktu menjual Rumah dan Mobil hasil Jerih payah Orang Tuaku akibat kalah berjudi. Beberapa Gedung mewah tempat Berjudi yang dahulu sering kali aku kunjungi, kini bagaikan dipasang Kawat berduri dengan bentakan beberapa Penjaga yang dahulu sering aku beri Tips; juga makian pengunjung lainnya yang menganggapku bagai pengemis hina. Dan kini aku hanya bisa tersenyum getir saat melewati sebuah warnet yang banyak diramai dikunjungi kaum remaja, dan memainkan sebuah game bernama Poker…


-Ah, air bisa membuat perahu berlayar, tetapi juga dapat menenggelamkannya…

Sore Hari, Jakarta Dihuni Bangsa Barbar



Menyaksikan Jakarta pada waktu sore hari, benar-benar terasa aneh. Ditengah hiruk pikuk Ibukota yang sumpek ini, ternyata sangatlah jauh dari kata lancar. Hampir setiap jalan utama Ibukota yang selalu dipenuhi antrean kendaraan baik itu motor, mobil, bus, truk serta lalu lalang angkot dan sejenisnya.

Tiada yang mau mengalah sesama pengguna jalan, serasa dia sendiri yang bayar pajak jadi dia bebas menggunakan jalan sesukanya. Yang bikin macet adalah ketika banyak motor dan mobil pribadi menerobos lampu merah, memasuki jalur Busway, angkot ngetem sembarangan, bajaj tak peduli ramai atau tidak dengan nekat selap-selip diantara keramaian jalan. Ditambah lagi dengan kelakuan Metromini dan sejenisnya yang dengan seenaknya saja memutar di bukan jalur yang dibenarkan bahkan ngetem/ menunggu penumpang di tengah jalan. Pedagang kaki lima dengan gampangnya menggelar dagangan ditrotoar yang mestinya untuk pejalan kaki, dan yang lebih parah sampai meluber ke tengah jalan…?. Ditambah dengan pejalan kaki, menyeberang jalan dengan melintasi jalan yang sedang ramai dilalui oleh lalu lalang kendaraan, bukannya melalui jembatan penyeberangan. Eh malah ditambah bermunculan pusat perbelanjaan yang menyediakan parkir di pinggir jalan umum?

Sungguh sore hari, Jakarta dihuni oleh kawanan Barbar yang primitif…
Seperti yang terlihat dibeberapa jalan yang ada di Ibukota, khususnya Jakarta Pusat dan Jakarta Barat, domisili yang biasa saya lewati:
Jalan Jendral Sudiraman

Pusatnya Kota Jakarta, disini banyak berdiri gedung-gedung tinggi yang menjadi kantor dari segala macam pelaku bisnis di Indonesia. Sering macet karena terhalang keluar-masuk kendaraan dari gedung ke jalan.

Jalan Gatot Subroto
Salah satu jalan utama di Ibukota, sering macet karena jalurnya terbagi untuk tol dalam kota.

Jalan KH. Hasyim Ashari
Jalan sekunder yang macetnya akibat banyak motor yang parkir seenakanya dipinggir jalan sebuah pusat perbelanjaan telepon seluler di Indonesia. Ikut andil juga juru parkir liar dan pak ogah yang justru bikin tambah macet. Menjadikan sebuah proyek jalan layang menjadi sia-sia karena tetap saja kemacetan terjadi, malah makin bertambah parah.

Jalan Kiai Caringin - Suryopranoto
Kemacetan terjadi mulai dari seberang kali cideng sampai dengan perempatan lampu merah tomang-slipi. Jalan ini adalah pintu gerbang bagi kendaraan roda empat atau lebih untuk menuju ke daerah Barat kota Jakarta hingga Merak.

Jalan KH. Mas Mansyur - Doktor Satrio
Kemacetan terjadi karena jalan menyempit dipakai pedagang kaki lima disekitar pasar Tanah Abang dan juga terhalang oleh akses keluar masuk di sebuah pusat perbelanjaan di Kuningan.

Jalan Daan Mogot
Jalan terpanjang di Barat kota Jakarta hingga kota Tangerang ini adalah biangnya kemacetan bagi kaum pekerja yang pergi atau pulang dari Jakarta ke Tangerang dan sekitarnya. Kemacetan terjadi mulai dari Pesing, Perempatan Cengkareng hingga melewati terminal Kalideres.

Jalan Latumenten - Suparman
Jalan KH. Moh Mansyur (Jembatan Lima)
Macet dijalan kecil ini karena sepanjang bahu jalan dipenuhi oleh pedagang kaki lima yang tumpah-ruah dari pukul lima sore hingga lepas tengah malam

Jalan Pangeran Tubagus Angke
Kemacetan dijalan ini terjadi karena sedang dikerjakan proyek fly over yang entah bisa mengurangi kemacetan atau malah menambah parah sumpeknya jalur ini.

Jalan Bandengan

Jalan Gajah Mada - Hayam Wuruk
Ini hanyalah sekelumit catatan pribadi saya, yang hampir setiap hari melewati jalan- jalan tersebut. Bagi Anda pembaca Kompasiana disarankan kalau tidak perlu-perlu banget, agar tidak melewati jalan-jalan yang saya tuliskan barusan pada waktu pagi (pukul 07-09wib) maupun sore hari (pukul 16-19 wib). Karena selain bisa bikin bengkak + boros BBM, Tensi Darah jadi tinggi, serta bisa membuat Anda kehilangan waktu yang berharga gara-gara terjebak macet. Saran saya lebih baik melewati jalur Alternatif atau jalan tikus untuk menghindari macet, kecuali Anda semua sedang Melatih Kesabaran dan Mental.

500 Meter dari Istana Negara

Huuf, lagi enaknya tidur terbangun oleh suara alarm Hp yang salah ngatur waktunya. Mestinya alarm berbunyi jam 6 pagi, ini baru jam 2 udah mulai start. Dasar Hp jadul, bathinku mengomel, maklum Hp yang satu ini memang keluaran lama Produsen asal Finlandia awal tahun 2000an yang masih saya pakai karena bandel di baterai dan tahan lama.

Ingin melanjutkan tidur tapi tetap tidak bisa ini mata untuk dipejamkan, terpaksa aku buka Internet. Sambil utak-atik sebentar, sepertinya ada yang aneh…
Perut ini kok, rasanya ada yang tidak beres, berbunyi terus. Ah, rupanya aku belum makan dari sore, pantas saat ini terbangun merasa lapar. Langsung saja kulihat di meja, yah ternyata kosong, terus pandangan ku beralih ke Rice Cooker, sama saja, tidak ada nasi. Tiada satupun makanan yang ada, terus aku menuju ke Lemari Es, untung masih ada mie instant untuk sebagai pengganjal perut. Langsung saja, kunyalakan kompor gas Subsidi dari Pemerintah, Clekk. Apinya perlahan  mengecil, dan padam…!

Ya ampun, Gas ternyata habis. Semenjak ditinggal Ibu pergi ke Bandung untuk berobat jalan, penyembuhan penyakit Diabetes, memang dirumah tidak ada yang masak. Paling kalau lapar, beli ke Warteg, murah meriah. Atau kalau ada uang lebih, tinggal jalan ke Roksi, membeli nasi bungkus di Rumah makan Padang, Tanpa Nama.
Tapi tengah malam buta, apa ada yang buka warung nasi atau pecel lele? Ah meskipun ada Warteg buka, masakannya pasti sudah dingin, sisa sore hari. Terpaksa aku mengeluarkan Sepeda Motor untuk membeli makanan sekalian rokok.

Sampai di perempatan lampu merah Roxy ternyata Rumah makan Padang sudah tutup, yang ada hanya sea food dan nasi goreng. Ah malas, malam begini makan nasi goreng apalagi seafood, karena aku alergi makanan laut. Sambil muter sejenak dikawasan Cideng, akhirnya aku kepikiran untuk membeli makanan di daerah Pecenongan yang terkenal akan Ayam bakarnya.
Sambil mengendarai motor dengan perlahan, iseng iseng kuperhatikan banyak kaum hawa yang berjejer rapi di pinggir jalan, sambil sesekali melambaikan tangannya kesemua kendaraan apalagi kendaraan roda empat. Wuiih, ternyata mereka masih sangat muda, bahkan kebanyakan adalah Abg, yang usianya kalau ditaksir sekitar 16-20 tahun. Ah, apalagi gadis yang berkulit kuning langsat serta rambut sebahu dengan pakaian ala pemain tenis yang bahkan (maaf) menonjolkan sisi auratnya.
Lelaki mana yang darahnya tidak berdesir melihat pemandangan seperti ini?
Apalagi aku yang masih sangat awam dengan kehidupan dunia malam, serta masih sendiri.
Apakah aku tergoda melihat mereka?
Ah, hanya aku dan Tuhan yang tahu…

Sampai di depan sebuah Restoran Jepang sampingnya gedung pusat hiburan malam, aku melambatkan lajunya motor ini, bukan karena ingin atau kepingin. Tapi aku berhenti didepan sebuah kios rokok berlambang A. Aku istirahat sejenak karena capek dan dingin yang menyelimuti malam ini. Sambil menyalakan sebatang rokok berlogo Jarum, iseng-iseng aku mengobrol dengan tukang parkir yang juga sedang istirahat ini, dan kebetulan kelihatannya masih muda.
“Bang rame amat ya disini” Ucapku, membuka pembicaraan.
“Lha Iya, disini mah kagak pernah sepi” Jawab tukang parkir itu dengan logat betawi yang sangat kental.
“Itu cewek banyak benget yang berdiri dipinggir jalan ya Bang?”
“Yah elo, nanya apa tidur sih! Udah jelas disini emang tempat mangkalnya Jab***. Apalagi entar jam 4, pasti padet deh jalan. Banyak yang keluar dari Diskotik atawa Panti Pijat.”  Ujarnya menjelaskan.
“Oh gitu Bang, tapi bukannya mereka pada didalam Diskotik/ Bar. Kok malah nongkrong di pinggir jalan?” Tanyaku lagi.
“He he, kalo yang didalam tuh kelas Elit, banyakan yang booking Bos-bos, tapi kalo yang dipinggir jalan ntuh, yang murahan atau yang udah gak laku lagi.” Lanjut dia lagi.
“Tapi kok masih pada cantik-cantik ya Bang, muda semua lagi…”
“Apalagi yang itu tuh Bang, yang pake Rok Hitam. Gila banget mirip artis sinetron” Ujarku lagi.
“Kalo yang disini (mangkal) biasanya udah kaga kebagian tempat didalam, dah gitu kebanyakan ga pada laku lagi. Saingan didalam banyak, apalagi Maminya, pada galak. Mungkin ntu yang bikin mereka ga betah didalam” Paparnya lagi.
“Ooh, begitu…” Sahutku sambil menghembuskan asap terakhir dari rokok ini.
“Emang situ mau kemana?” Tanya tukang parkir.
“Mau ke Pecenongan Bang, beli ayam bakar” Sahutku lagi.
“Oh, kirain lo malam-malam begini mau nyari Ayam Kampus…” Katanya lagi.
Meledak tawa ku mendengar perkataan Tukang parkir itu.
“Ga lah Bang, masa saya mau nyari itu, takutlah. Dosa…”
“Alah…, hari gini anak sepantaran lo ngerti dosa! Yang ingusan aja kalo ngeliat beginian langsung On. Apalagi lo yang udah gede” Jawabnya.
“Ya, bukan gitu sih Bang, tapi emang saya lewat sini sekadar liat doang. Gak ada maksud lainnya”
“Lagian jangan deh lo, sayang. Lo masih muda. Apalagi sekarang sering musim razia, bisa-bisa lo digaruk masuk tivi deh”
“Emang sering Razia juga Bang, disini?” Tanyaku.
“Ya iyalah, kalo ada razia disini udah kayak tawuran sekampung aje. Pada lari mencar, ga yang didalam, sama yang diluar sama aja, pada kabur nyelametin diri”
“Tapi sekarang kan rame Bang?”
“Iye, baru tiga hari yang lalu ada razia, besoknya sepi. Eh kemaren udah pada ngumpul lagi” Jawabnya seraya menguap, mungkin karena mengantuk atau kecapean.
“Berarti mereka ga kapok- kapok ya Bang?”
“Gw juga ga tau sih, tapi kemaren gw sempet ngobrol sama si S*** yang ketangkep Satpol PP tiga kali. Eh dya bilang kaga takut katanye sih udah resiko”
“Resiko gimana Bang”
“Ya resiko lah, abisnya kata dia kalo Urusan Perut tuh nomer satu, apalagi dia punya anak empat dikampungnya, sama dia juga bilang kalo Pria yang ketangkep rata-rata ga kapok karena itu juga”
“Yah, kalo cowo sih emang gitu Bang” Sahutku menimpali.
“Gw ga tau dah, katanye sih kalo cowok tuh Urusan dibawah perut yang nomer satu, jadi yah ketangkep sekarang, paling dia pikir cuma lagi apes aja.” Katanya menambahkan.

“Tapi emang aneh ya Bang, banyak Cewek yang mangkal disini, padahal ga jauh lagi ada Istana Negara berdiri. Apa Presiden gak risih ‘tetanggaan’ sama tempat begituan” Kataku bertanya.
“Yah, mane gw tau. Tugas gw disini cuma parkir, urusan Presiden tau apa nggak emang gw pikirin. Lagian juga presiden kan banyak pembantunya, mustahil aja dari sini ke depan monas yang jaraknye cuma 500an meter dia pada ga tahu” Jawabnya , seraya menyalakan kembali kretek berwarna hijau itu.
“Iya ya Bang, aneh juga. Yang jaraknya ribuan kilo kayak di Mesir aja diurusin, eh ini cuma beberapa ratus meter masa ga diurusin” Kataku lagi.
“Yah, namanya juga cari duit, Pemerintah cari duit, rakyat juga pengen cari duit. Kalo itu cewek-cewek ga ngejab*** emangnye Pemerintah mau nanggung ngasih makan?, trus mau biayain anak sama keluarganya di kampung?? Ya enggak kan, makanye Pemerintah ngediemin mungkin supaya kite rakyat miskin usaha sendiri nyari duit ga nyusahin mereka, gitu deh” Jawabnya panjang lebar.
“Ya udah deh bang, saya cabut dulu ah, dah kelamaan duduk nih” Ujarku pamit sama Abang tukang parkir.
“Iye, ati-ati lo, banyak razia…!” Seraya mengingatkanku.
“Ya Bang, makasih banyak” Jawabku sambil menyalakan motor. Kulihat saja Wanita bergaun hitam itu terus memandangiku, dengan sorot mata yang bertanya…

…ada yang butuh dirinya,
ada yang  benci dirinya
ada yang berlutut mencintainya
ada pula yang kejam menyiksa dirinya…

Ah, Pas sudah di motor rasa lapar ini sirna sudah.
Gara-gara ngobrol dengan Tukang Parkit itukah?
Atau semenjak kedinginan dijalan?
Atau juga disebabkan kebanyakan ngeliatin yang indah-indah.




Ah, daripada mikir yang enggak karuan, ntar terjerat jaring tanpa benang. Mendingan kuputuskan untuk
pulang saja, seraya diperempatan lampu merah Harmoni memandang dari jauh Istana dengan penuh kekaguman.

(Entah apa yang dikagumkan…!)


Mengejar Bayang-bayang Merah...




aku seperti sang senja

yang sedang mengejar bayang-bayang merah

lambat laun, kudekati

perlahan demi perlahan

hampir pasti dalam dekapan

…namun,

ia berbalik tersenyum dingin

lantas aku merasa

hawa panas menyelimuti tubuh ini

aku terkesiap

ketika ku menoleh ke belakang

Sang Surya sedang menunjukkan kegagahannya

* * *

meskipun aku tahu,

Sang Dewi Malam

senantiasa memperhatikanku

tetapi aku senantiasa mengaacuhkannya,

demi tekadku

serta angan-anganku

untuk merebut hatinya

***

kurela,

mesti tubuh ini hancur lebur

hilang tak berbekas

demi mimpi

yang selalu kudambakan…