Sabtu, 05 Maret 2011

Status di Facebook (Artikel lepas III)

Status Facebook
* * *

status, oh status...!



...aku ini hitam! 
sehitam diriku, sehitam hatiku, sehitam langit yang kelam, sehitam kulitku yang gosong, sehitam warna rambutku, sehitam langkah jalanku, serta sehitam pikiranku yang kelam...
* * *
tetapi, setidaknya aku dilahirkan kedunia dengan jiwa yang putih bersih...





karena engkau, Adam-Hawa...
menderita, di dunia..
tak puasnya kau Menggoda
Dosa semakin melimpah...
* * *
Hai Setan kini Engkau menang
semoga Engkau senang
kudoakan kepada Tuhan
Untukmu kumohonkan Neraka Jahanam...

(Penggalan lirik lagu Neraka Jahanam - Dua Kribo)





...malam yang dingin ini sangat membekukan seluruh tubuh,
hingga hampir saja meremukkan sekujur tulang.
* * *
tatapi, lebih dingin lagi tatapan mata seorang gadis yang tertuju padaku,
sampai, nyaris mematahkan hati ini hingga tak berdaya...



.

Menulis itu, adalah seni...
dan seni itu relatif.
* * *
baik atau buruk, tergantung yang baca
bukan yang menulisnya sendiri...


saya suka menulis yang berbau pengalaman atau kenangan, 
sebab kenangan itu penting dan sebagai bekal 
untuk bercerita nanti kepada anak dan cucu...

status tentang penyesalan dan ketidakberdayaan



negara yang bersatu, suatu saat akan bercerai:
negara yang bercerai, suatu saat akan bersatu kembali...
* * *
huuf, itulah cuplikan novel dari Kisah Tiga Negara, dalam dinasti Han/ Negara Cina abad ke 3.





...semenjak dahulu, manusia mana yang tak akan mati?
aku menggunakan kesetiaan untuk mencatat kitab sejarah...



...jujur saja, aku ini hanyalah seorang sampah, yang terbuang dan tergeletak hina dipinggir jalan.
* * *
tetapi berkat diriku, semua orang menjadi tahu akan arti kebersihan yang sebenarnya...


 ...persahabatan itu, lebih baik dipadamkan:
daripada dibiarkan memudar perlahan...
* * *
lebih baik mempunyai 5 orang musuh, 
daripada mempunyai 1 orang sahabat, tapi berhati benalu...


''tombak yang terang, mudah ditangkis:
anak panah gelap sukar dilawan..."
* * *
musuh dalam selimut lebih berbahaya daripada orang yang secara Nyata benar-benar memusuhi kita...

aku sangat menyukai kharisma Freddie Mercury, aku sangat mengagumi lirik ciptaan John Lennon, tetapi (jujur) dibandingkan semua musisi yang ada di kolong langit, aku hanya mengidolai seorang Kurt Cobain...
dialah Inspirasiku selama ini, dalam dunia virtual, maupun dunia nyata.
* * *
seperti halnya kata-kata terakhir sebelum beliau tewas:...
I hate to my self, and I want to Die...


status tentang kenyataan hidup



"kemilaunya sinar matahari diwaktu senja sangatlah indah, tetapi sayang hari sudah mulai gelap..."
* * *
_______________________________________________________________________
_______________________________________________________________________
Maaf, ini hanya sekedar artikel iseng-iseng belaka.
Nama, dan Foto Profil telah DISAMARKAN...

Menulis (Fiksi) bagi saya itu, ibarat melihat Lukisan karya Van Gogh dan Seniman lainnya…

Menulis bagi saya adalah Hobi, tidak perduli bagus atau jeleknya tulisan. Yang terpenting adalah bagaimana kita mengapresiasikan hasil tulisan tersebut. Atau kritik pedas dan komentar negatif dari yang membaca hasil tulisan saya, toh itu untuk membangkitkan semangat saya dalam menulis, agar memperbaiki tulisan di kemudian hari…

Juga saya tidak begitu membedakan antara harus menulis fiksi atau menulis berita atau menulis kisah pengalaman. Bagi saya, sama saja. Titik.

* * *

Menulis bagi saya seperti melukis, inspirasi mengalir apa adanya tanpa dibatasi serta disekat yang namanya konsep.

Ibarat Vincent Van Gogh yang melukis “Bunga-bunga Iris” saat Ia masih di Rumah Sakit Jiwa sebelum ia meninggal. Juga ketika ia membuat lukisan menjiwai, melukis langsung saat para petani sedang memakan kentang dengan lahapnya, “The Potato Eaters”.

12992527032142918202
lukisan asli beberapa petani yang sedang memakan kentang

Menulis bagi saya seperti meraungkan gitar dengan sesekali memetik tali-tali senar hingga putus, demi mempersiapkan suatu lagu.

Sama juga saat Kurt Cobain menulis lirik “Rape Me”, salah satu lagu yang kontroversial dari Nirvana. Atau juga ketika Kurt Cobain hendak meledakkan kepalanya dengan senapan, ia menulis sebait puisi dalam suratnya yang berbunyi “lebih baik padam, daripada pudar…

Menulis bagi saya seperti juga gocekan Del Piero saat ia meliuk-liuk membelah barisan pertahanan lawan, sebelum melepaskan satu serangan terakhir… dan Gol! Atau juga saat Ia mengukur arah mata angin dan jarak yang tepat dari si kulit bundar dengan posisi kiper yang salah langkah, hingga berbuah hasil akhir yang mempengaruhi pertandingan.

Menulis bagi saya seperti juga Rayuan maut Arjuna kepada Dewi Srikandi, seorang tokoh Ksatria Wanita dari Kisah Mahabharata. Padahal Arjuna telah mempunyai Dewi Sumbadra, tokoh wanita tercantik didunia, tetapi ia masih saja memperistri Srikandi yang terkenal keras kepala serta menjadi satu-satunya tokoh wanita yang ikut berperang di medan Kurusetra.

Menulis bagi saya seperti juga kecerdasan dan kehebatan Oey Yok Su, tokoh silat yang dijuluki sebagai “Sesat Timur”. Pendekar silat karya Novelis terkenal Jin Yong. Oey Yok Su terkenal akan kepintarannya dalam berpikir yang terbalik dan mempunyai ilmu yang sangat ditakuti dalam rimba persilatan karena sifatnya yang nyeleneh dan tidak suka mengikuti aturan. Tapi ia ikut turut menyelamatkan Benteng Kota Siangyang dari Invasi Bangsa Mongol.

Menulis itu bagi saya seperti juga melihat kegigihan serta kontroversi dari Pak Pramoedya Ananta Tour, tokoh yang sangat saya kagumi karena meskipun berada di pengasingan Pulau Buru, tetapi masih sempat untuk menelurkan karya-karya terbaiknya, seperti Manusia Bumi. Bagi saya pribadi, beliau adalah salah satu Penulis Fiksi terbaik yang ada di Kolong Langit…

12992542851209530104
menulis fiksi itu idenya dari mana saja, bisa dari rumah, jalanan atau toilet…

* * *

Itu hanya sepenggal kiasan atas kekaguman saya terhadap beberapa tokoh terkenal diatas. Karena Inspirasi dari menulis itu mengalir apa adanya tanpa dibatasi serta disekat yang namanya konsep. Sebab, pemikiran itu terkadang bisa datang kapan saja, entah dirumah, dijalanan, dikantor bahkan ketika kita berada di Toilet…!

…datang bagaikan mengalirnya air
pergi laksanan siliran angin
entah darimana asalnya
entah dimana tujuannya…

_____________________________________________________________
Sumber Foto : Wikipedia dan 
Sumber Tulisan : Wikipedia dan Majalah Rolling Stone Indonesia
Sumber Puisi : Penggalan Novel, "Kisah Membunuh Naga"
Sumber Artikel ini : kompasiana.com/roelly87
_____________________________________________________________
_____________________________________________________________

Jumat, 04 Maret 2011

Catatan Ringan Choirul Huda I - Menulis itu Mudah? Siapa Bilang...

menulis, menulis dan menulis


Menulis itu Mudah? Kata siapa…

Ya siapa yang bilang kalau menulis itu mudah atau gampang?
Siapa juga yang bilang kalau menulis itu tidak sulit?
Bagi saya pribadi, Menulis itu susah…
Lho? Kenapa? dan Mengapa?

* * *

Aneh… Kontradiksi sekali dengan kebanyakan orang yang mengatakan bahwa Menulis itu Mudah, Menulis itu Mengasyikkan, Menulis itu sehat, Menulis itu melatih pikiran, Menulis itu Bla-bla-bla…

1. Sebab menulis itu butuh waktu, dan waktu yang tepat untuk menulis (bagi saya pribadi) adalah malam hari, sekitar pukul 02 wib. Kalau untuk siang hari, jangan harap deh! Meskipun hari libur dan tidak ada kegiatan, tetap saja tidak pas untuk menuangkan ide yang ada dikepala ini. Sebabnya, siang itu terlalu ramai, apalagi dirumah saya yang batas dengan tetangga hanya lewat selembar triplek. Belum lagi kalau ada tetangga yang punya anak kecil sedang nangis, ada yang berantem, ada yang menyetel musik keras-keras, boro-boro ada mood buat menulis, yang ada malah jadi hilang semangat buat ngelanjutin lagi.

* * *

Menulis itu Mudah? Kata siapa…
Yang ada malah bikin Bangkrut!

2. Jujur saja menulis itu butuh uang yang tidak sedikit!

Lho, memang apa hubungannya, menulis kan mengetik melalui kedua tangan dan tidak mengeluarkan uang sama sekali.
Itu kata orang, kalo kata saya sendiri, untuk menulis dan bikin tulisan suatu artikel memang butuh uang, uang untuk membeli perbekalan selama kita menulis…

Contohnya adalah Kopi, Rokok dan Pulsa untuk Internetan yang Unlimited.
Sebagai gambaran kasat mata saja, setiap malam saya harus mengeluarkan uang untuk membeli perbekalan itu seharga:
Rokok Kretek merk Z = Rp 9.500 perbungkus (semalam menghisap rokok sebungkus)
Kopi Mix merk A = Rp 2.000 perbungkus (rata-rata saya minum kopi 2 bungkus, saat pukul 23 dan pukul 03 malam)
Itu dalam semalam, bagaimana kalau saya menulis selama sebulan penuh?
Kalau diambil rata-rata sejak Januari lalu saya mulai giat menulis, kisarannya adalah:
Rp. 9.500 x 25 hari = Rp. 237.500
Rp. 2.000 x 25 hari = Rp. 50.000
Rp. 200.000 x 1 bulan = Rp. 200.000     +

Total adalah Rp 487.500 Pengeluaran yang harus saya keluarkan setiap bulannya (dengan hitungan kasar, saya menulis selama 25 hari terus menerus).
Belum lagi ditambah dengan biaya perbaikan Laptop apabila error, biaya ganti charger laptop, dan biaya Listrik bulanan…!

* * *

Menulis itu Mudah, kata siapa?

3. Menulis itu Butuh Kesabaran yang Tinggi!
Sebabnya adalah jika kita tidak kuat-kuat Iman, maka apa yang hendak kita tulis itu bisa hilang. Ibarat Kemarau setahun dihapus guyuran hujan semalam…
Sebagai contoh adalah ketika sedang enak-enaknya nulis, eh ada telepon mendesak dari pacar. Mau tidak mau, tulisan yang sudah ditengah jalan bahkan hampir selesai harus disimpan lagi. 
Kemudian dilanjutkan? Tentu saja tidak, karena mood menulis sudah hilang, mungkin saya masih menulis lagi, tapi sudah berganti topik.

Apalagi pada kasus ini yang sering terjadi, waktu itu saya sedang asyik menulis tentang Bab 3, Cerita Bersambung berjudul “Nina”. Rencananya cerita itu akan saya buat hingga 7 episode, dan sudah dipikirkan secara matang. Tapi saat baru mengetik tiba-tiba lampu mati, karena saya menulis langsung di kompasiana dan belum sempat disimpan (tidak melalui format Microsoft Word) maka tulisan saya langsung hilang…
Sampai dada saya terasa menyesak, sudah capek mikir, ngerencanain tokoh dengan matang, eh akhirnya hilang begitu saja.
Akhirnya 2 jam kemudian setelah listrik kembali nyala, saya bersiap mengumpulkan sisa-sisa ide yang barusan saya tuangkan itu. Tapi berhubung sudah tidak semangat lagi untuk menulis, maka saya putuskan untuk sekedar chatting atau mengupload foto2 di facebook. Baru setelah ide-ide yang bersarang dikepala balik lagi, saya melanjutkan kembali.
Lantas bagaimana dengan kelanjutan cerita Nina?
xi xi xi, sampai sekarang belum ada satupun dari sisa 5 cerita Nina tersebut yang saya terbitkan…!
^_^

hasil dari menulis malam, diganjar headline!


* * *
Menulis itu Mudah? Kata siapa…
Bersambung.

____________________________________________________________________
Maaf, ini HANYA sekadar Catatan Pribadi. tidak ada sangkut pautnya dengan orang lain...

Selasa, 01 Maret 2011

Putri yang Ditukar (sinetron yang membosankan tapi sangat ditunggu kehadirannya?)

Salah satu Adegan antara Tuan Prabu dan Amira


Maaf, sebelumnya. Saya bukan bermaksud Promosi tentang sinetron ini atau juga Membencinya.

Tapi saya heran, kenapa setiap jam 7 malam, Ibu-ibu disekitar rumah saya pada berbondong-bondong untuk menyaksikan sinetron ini. Entah apa yang bagus dengan ceritanya, atau hanya pemainnya yang tampan dan cantik-cantik?

Padahal kalau melihat ceritanya, sungguh membosankan dan juga terkesan terlalu didramatisir. Belum lagi dengan judul "Putri yang ditukar", mirip sekali dengan beberapa sinetron bergenre sama (Putri yang terbuang, Anak yang tertukar, Dia bukan anakku, serta lainnya bla-bla-bla).

Huuf, sungguh bikin mengantuk!

Tapi mau tidak mau saya mesti melihatnya, meskipun hanya sekilas. Karena setiap saya main Komputer atau Online diruang tamu, pasti sudah ramai oleh teriakan Ibu, Adik, Sepupu, dan Saudara lainnya, bahkan Tetangga!. Sampai-sampai saya harus menutup telinga dengan Handsfree agar tidak kedengaran suaranya. Apalagi saat ada adegan Tuan Prabu marah dengan dengan Ibu Malena... Wuuish, heboh banget dah satu ruangan!

Soalnya, setiap saya tanya tentang apa yang menarik dari film ini, semuanya serentak menjawab karena Tuan Prabu!!! Dalam film bernama Prabu Wijaya, tetap saya lebih suka menyebut Tuan Prabu. Ya sosok Ayah dari Amira (Nikita Willy) ini memang sangat digemari oleh penonton yang rata-rata kaum Hawa. Mereka kepincut dengan tokoh yang diperankan oleh Atalarik Syah. Entah karena tampan, wajah yang dingin, atau mungkin karena mirip Indo yang tinggi dan putih.

Wajah Tampan dan Dingin dari Tuan Prabu yang banyak menghipnotis penggemarnya

Kalau jalan cerita film ini sebenarnya datar-datar saja, tidak jauh berbeda dengan kebanyakan sinetron Indonesia lainnya. Kisah tentang seorang anak perempuan yang sejak lahir ditukar oleh seorang bernama Wisnu karena mempunyai dendam pribadi dengan Ayah anak tersebut (Tuan Prabu). Kemudian cerita berkembang menjadi perebutan harta, kekuasaan, serta warisan setelah datang tokoh Antagonis Irfan (Adipura). Berlanjut sampai saat ini ketika Zahira (Yasmine Wildblood), sakit parah dan mengetahui bahwa orang tuanya yang sebenarnya ternyata bukan Tuan Prabu, melainkan Ihsan (Sulthan Djorghi). Dan berkembang, terus berkembang, hingga berkembang kemudian...

Malas saya cerita lagi, mending Anda melihat langsung sinetron ini setiap malam sekitar pukul 19 malam...?

Gara-gara film ini pula saya harus mengungsi dari rumah setiap habis maghrib, dan TV serta Remote sudah dimonopoli oleh Ibu serta Adik. Dalam hati saya hanya bisa berdoa semoga film ini cepat tamat, karena kalau berlanjut seperti Cinta Fitri hingga beberapa tahun, bisa gawat deh nasib saya dirumah. Apalagi kalau mengikuti Kemilau Cinta Kamila yang tamat terus tayang, tamat lagi, eh kemarin tayang lagi??

Sampai-sampai oleh orang rumah, Tagline sinetron Kemilau Cinta Kamila diplesetkan dari Cinta tiada akhir, menjadi "Derita Tiada Akhir..."

He he he, itulah dramatisasi sinetron Indonesia, kalau satu film sedang Ngetop, pasti banyak yang mengikutin. Dan jarang ada yang Inovatif seperti Islam KTP atau yang dahulu Lorong Waktu.

Yaa, biar bagaimanapun pesimisnya kita akan perfilman Indonesia, masih ada kok sisi baiknya. Salah satunya adalah Yang Baik pasti berakhir Bahagia di akhir cerita, serta juga bisa mengalihkan (walau sekilas) sakit kepala Rakyat Indonesia dari harga-harga yang melambung tinggi dan keterpurukan moral Bangsa.

Disamping itu juga, banyak yang bilang bahwa menonton Sinetron lebih baik daripada menonton sepak terjang Pemerintah beserta Institusi lainnya yang carut marut dan tak pernah Berakhir Bahagia di akhir cerita...!

* * *

Ah, saya jadi ngelantur ngomongin yang tidak-tidak. Hampir lupa bercerita, bahwa episode kemarin Tuan Prabu sudah benar-benar mengetahui dari hasil tes DNA bahwa Amira itu anak kandungnya yang selama ini tertukar...

Lho???




________________________________________________________________________
Sumber Foto : Google dan Kapanlagi.com
Sumber Tulisan : Wikipedia dan Kapanlagi.com
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________

Senin, 28 Februari 2011

Memetik Pelajaran dari Cerita Silat “Tujuh Pendekar Pedang dari Gunung Thianshan”

12981282441240572801
Novel Silat "Thian San Tjhit Kiam"


Tiba-tiba Lu Soe Nio menuding kedinding saldju. 
Siauw Lan dan Phang Eng
mengawasi dan ternjata diatas sebuah batu terukir empat huruf besar:

Djin-thian-tjoat-kay (Perbatasan antara manusia dan langit). 

Dibawah empat huruf itu terdapat beberapa baris huruf ketjil jang berbunji
seperti berikut:

Pada musim rontok tahun Kah-sin, aku tiba di-Tibet dengan niatan
mendaki puntjak Tjoe-hong*. Aku tertahan ditempat ini, tenagaku habis,
tak dapat kumadju lagi dan hampir-hampir kuhilang djiwa. Sekarang
baru aku jakin, bahwa tenaga manusia ada batasnja. Semendjak keluar
dari rumah perguruan, dengan sebatang pedang aku berkelana keberbagai
tempat tanpa menemui tandingan. Aku menduga, bahwa dikolong langit
tiada pekerdjaan jang tidak bisa dilakukan
. Tapi sekarang, aku
menunduk dibawah Tjoe-hong, dengan ditertawai oleh awan-awan putih.
Manusia mudah ditakluki, tapi langit tak dapat diatasi. Hai!
Kenjataan ini adalah tjukup untuk membuat orang-orang gagah dikolong
langit menghela napas sambil mengusap-usap pedangnja!

Dibawah huruf-huruf itu terdapat tiga huruf: Leng Bwee Hong. Ia
adalah (kakek guru) Tong Siauw Lan dan Phang Eng. 

* * *

Ya, memang benar didunia ini banyak orang yang menyangka, apabila sudah bisa menundukkan lawannya atau meraih cita-citanya, maka Ia akan beranggapan bisa menaklukkan dunia yang luas ini. Padahal masih banyak didunia ini yang tidak dapat dijangkau oleh kekuatan, akal dan pikiran manusia itu sendiri.

Tokoh dalam cerita silat karangan Liang Yu Sheng ini, yaitu "Leng Bwee Hong" sangat terkenal akan kegagahannya dalam melawan kerajaan Bangsa Qing yang menjajah Negara Cina. Tetapi ia sangat mengakui bahwa dengan segenap kegagahan dan kekuatannya tetap tidak bisa menaklukkan Puncak Pegunungan Himalaya yang menjulang pongah seperti menggapai lagit…

Begitu juga dengan kehidupan kita di alam nyata, banyak seseorang yang telah lupa bila sudah memangku akan kedudukan, jabatan dan derajatnya yang tinggi. Mereka berpikir seolah-olah tidak ada yang bisa menghalanginya lagi, padahal mereka seharusnya meniru akan sifat dari Pendekar Leng Bwee Hong tersebut yang menerapkan Ilmu Padi, semakin berisi semakin menunduk.