Sabtu, 23 Juli 2011

Serial Silat: 7 Musuh Terkuat Dunia Persilatan versi Jin Yong

Setelah asyik menyelami dunia wayang, tiba-tiba saja saya melihat buku cerita silat "Legenda Pendekar Rajawali", Sia Tiauw Eng Hiong yang teronggok tak terjamah di pinggiran kardus tempat menaruh komik dan novel yang sudah lama tidak pernah saya baca. Iseng-iseng pas membukanya, jadi terpikiran untuk memposting kisah Tokoh Antagonis dari beberapa Serial Silat karya Jin Yong (Chin Yung).




Lima Pendekar Terhebat: Racun Barat, Kaisar Selatan, Raja Tengah, Pengemis Utara dan Sesat Timur


Dalam Dunia persilatan ada tokoh Antagonis atau yang disebut sebagai Jagoan seperti Kwee Ceng, Yo Ko, Lenghou Tiong maupun Thio Bu-Ki. Namun dimana ada yang baik, begitu juga pasti ada tokoh yang Jahat atau Antagonis. Berikut ini adalah beberapa tokoh Antagonis dalam serial Silat karya Jin Yong (Chin Yung)


* * *



1. Auw Yang Hong (欧阳锋)

Mendapat julukan sebagai "Racun Barat", adalah salah satu tokoh antagonis rekaan Jin Yong yang paling populer. Kisahnya terdapat dalam serial Legenda Pendekar Pemanah Rajawali dan Kembalinya Pendekar Pemanah Rajawali serta banyak disebut dalam serial silat lanjutannya. Auw Yang Hong diceritakan sebagai seorang musuh yang tangguh dan juga terkenal akan kelicikan serta kehebatannya dalam mengolah Racun. Ialah yang membuat Ketua Parta Pengemis, Ang Cit Kong kehilangan seluruh kekuatannya karena terkena pukulan yang berbisa darinya.

Ia juga adalah musuh abadi Ang Cit Kong, dari masa muda hingga akhir hayat mereka berdua selalu terlibat perseteruan seru. Hingga akhirnya dalam serial Kembalinya Pendekar Pemanah Rajawali, diceritakan bahwa mereka bertarung mati-matian sampai tersadar bahwa mereka selain musuh juga adalah teman sejati.

Ilmu yang paling berbahaya adalah Kap Mo Kang, yaitu jurus Kodok yang sangat ditakuti oleh kalangan rimba persilatan. Dan hanya dapat dimunahkan melalui jurus It Yang-Ci dari Ong Tiong Yang. Kemudian ada ilmu tongkat yang juga sangat hebat, karena diujung tongkat besi berkepala tengkorak itu terdapat dua ular paling berbisa yang jika terkena gigitannya akan membuat musuhnya menjadi lumpuh.

Ia mengangkat Yo Ko sebagai anaknya, setelah pikirannya terganggu akibat ulah Oey Yong saat adu pedang di gunung Hoa Shan. Anaknya sendiri (yaitu hasil hubungan gelap dengan kakak iparnya), Auwyang Kongcu tewas secara mengenaskan dibunuh Ayah kandung Yo Ko.


* * *

2. Gak Put Kun (岳不群)

Dikenal sebagai seorang Kuncu Kiam atau Pendekar Pedang yang terhormat. Ia adalah ketua dari Hoasan Pay/ partai Gunung Hoasan. Salah satu dari lima partai pedang terkemuka dalam serial Pendekar Hina Kelana. Ia juga merupakan Guru dari Lenghou Tiong, atau banyak orang menyebutnya Lingwu Chong. Mungkin (menurut saya pribadi) Gak Put Kun pantas disebut sebagai Pendekar paling licik dan pengecut yang diciptakan oleh Jin Yong.

Karena sebagai seorang Ciangbunjin (Ketua Partai), kelakuannya sangat bertolak belakang dengan apa yang dijuluki oleh orang-orang dunia persilatan. Dengan tega ia membiarkan istrinya bunuh diri hanya karena suatu kitab ilmu pedang. Dan karena kitab itu pula, ia rela mengorbankan kejantanannya menjadi seorang laki-laki dengan prilaku seperti wanita untuk di kebiri. Pada awalnya ia dikisahkan sebagai seorang Guru yang sangat baik dan disegani oleh kalangan rimba persilatan, namun karena ambisinya untuk menduduki ketua Ngo-Gak-Pay (perserikatan partai pedang dari lima gunung utama di Cina). Hingga ia menjadi seorang yang sangat licik, bahkan dengan sadis membutakan mata Co Leng-Tan, ketua Ko-san Pay yang juga sangat berambisi untuk menjadi ketua Ngo-Gak-Pay.

* * *

3. Seng Kun ( 成昆 )

Sang Pembuat Goro-goro, dalam serial Kisah Membunuh Naga/ Pedang Langit dan Golok Pembunuh Naga. Ialah yang berperan menyulut keonaran di dunia persilatan dengan banyak membunuh tokoh-tokoh sakti dari berbagai partai dan dilimpahkan kepada muridnya yaitu Cia Sun, Ayah angkat Thio Bu-Ki sekaligus salah satu Tetua dalam aliran Beng-Kauw (Agama Terang, yang ada pada saat dinasti Yuan dan Ming dan berasal dari Persia/ timur tengah).

Seng Kun sangat membenci Beng-Kauw, karena disebabkan perteruannya dengan Ketua agama tersebut yaitu Yo Kauwcu, untuk memperebutkan seorang wanita. Hingga saking sakit hatinya kepada Beng-Kauw, ia tega memperkosa istri dari Cia Sun dan membantai habis seluruh keluarganya. Hingga terbitlah perang besar antara 6 aliran partai putih (Siauw Lim, Bu Tong, Go Bi, Kun Lun, Khong Thong, dan Hoasan pay) melawan Beng Kauw. Dalam pertempuran itu, ia menyamar menjadi salah satu anggota biksu Siaulim yang banyak membunuh anggota Bengkauw.

Akhirnya di akhir cerita ia dibutakan matanya oleh Cia Sun, sekaligus dihukum dalam biara Siaulim akibat merencanakan hendak membunuh ketua Siaulim, Kong-Bun Taysu.

* * *

4. Tonghong Put-Pay (东方不败)

Salah satu karakter unik yang diciptakan oleh Jin Yong. Penampilannya dalam serial Pendekar Hina Kelana hanya sekilas, namun dapat memberikan warna tersendiri. Dikisahkan bahwa Tonghong Put-Pay adalah seorang pria yang mengebiri, demi menguasai suatu ilmu pedang yang maha dahsyat. Ia juga adalah ketua dari Mo-Kauw, yang diperoleh dari mengkudeta ketua sebelumnya sekaligus memenjarakan.

Ia sangat hebat, karena meskipun digempur oleh tiga Pendekar terkuat pada zaman itu (Lenghou Tiong, Yim Ngo-Heng, dan Hian Bun-Thian) tetapi sama sekali tidak terdesak. Malahan hampir saja membunuh mereka kalau tidak ada siasat dari Yim Ing, kekasih Lenghou Tiong sekaligus putri Yim Ngo-Heng.

Namun pada akhirnya ia tewas dengan tubuh tertusuk pedang yang menembus punggungnya oleh Ying Ngo-Heng, ketua Mo-Kauw dan Mentor sekaligus guru angkatnya.


* * *

5. Sing Siok Lo-Koay (丁春秋)

Seorang tokoh antagonis yang diceritakan sebagai pendekar maha jahat, karena telah berlaku kejam dan sadis dengan hendak membunuh gurunya serta mengancam adik seperguruan dalam partai Siau-Yau Pay. Seperti Auyang Hong, ia adalah seorang ahli menggunakan racun, bahkan kemampuannya dalam mengolah racun sangat ditakuti oleh berbagai pendekar rimba persilatan, baik yang hitam maupun putih.

Ia berasal dari tenggara negeri Cina, berbeda dengan gurunya yang menetap di pegunungan Thianshan. Dalam kisahnya disebutkan bahwa ia adalah seorang kakek yang terlihat muda dan seperti malaikat. Kalangan rimba persilatan menyebutnya Sing-siok Lo Koay (Iblis tua dari daerah Singsiok), sedangkan bagi murid-muridnya dijuluki Sing-siok Lo Sian (Pendekar Malaikat dari Singsiok).

Tangannya sungguh telengas dan tanpa ampun, bahkan murid-muridnya sama sekali tidak berharga dihapannya. Ketika ia dengan kejam membutakan seorang murid wanita yang berusia 14 tahunan ketika terdesak dalam suatu pertempuran melawan Pendekar dari Koh Soh, Buyung Hok.

Ia juga mengacau di biara Siaulim, hingga membuat keonaran dengan melawan ribuan pendekar di tionggoan. Namun pada akhirnya ia kena batunya, karena dihukum oleh biksu siaulim yang bertugas sebagai tukang sapu.

* * *

6. Li Mo Chiu (李莫愁)

Seorang Pendekar Wanita yang dijuluki sebagai Biksu Tangan Beracun sekaligus pembunuh berdarah dingin. Digambarkan sebagai sosok wanita tanpa ampun dan dapat membunuh orang tanpa berkedip. Ia adalah Kakak seperguruan dari Siauw Liong-Li, istri dari Yo Ko. Setelah kematian Gurunya, ia malang melintang di dunia persilatan dengan membuat keonaran termasuk intrik dengan Coan Cin Pay.

Namun akhirnya ia kena batunya, ketika dipermainkan oleh Oey Yong, pendekar wanita terhebat pada zaman itu sekaligus istri dari Pendekar Besar, Kwee Ceng. Ia juga sangat jeri pada Oey Yok Su, tokoh legendaris berjuluk "Sesat Timur", sekaligus Ayah dari Oey Yong. Ia berbuat keonaran karena masalah patah hati akibat cintanya kandas, hingga berbuat semaunya kepada kalangan rimba persilatan.

Akhirnya ia tewas dalam lembah putus cinta, ketika hendak dikeroyok Yo Ko dan Kalangan Rimba persilatan yang sudah sangat membencinya. Namun ada suatu adegan dramatis, saat ia diancam hendak dibunuh Oey Yong. Dengan berbesar hati (mungkin karena sifat alami keIbuannya) ia rela menukar jiwanya sendiri demi menyelamatkan Kwee Siang, anak Oey Yong. Bahkan saking sayangnya pada bayi itu, ia tidak segan-segan untuk memberi susu.

* * *

7. Kim Lun Hoat-Ong (金轮国师)

Seorang pendekar yang berasal dari negeri Tibet sekaligus Penasehat Negara Mongol yang saat itu hendak menginvasi negeri Cina (Tionggoan). Ia mempunyai 5 senjata yang terbuat dari Roda, yaitu emas, perak, tembaga, timah dan besi. Kim Lun Hoat-Ong adalah musuh bebuyutan Yo Ko, dari awal kehadirannya hingga akhir kematiannya ia selalu bertempur dengan sang Pendekar Rajawali tersebtu. Meskipun di pertengahan cerita ia sempat menjadi kawan ketiak Pasukan Mongol hendak menyerang benteng Siangyang.

Dikisahkan bahwa ia adalah satu-satunya tokoh terkuat yang berasal dari tionggoan yang mempu mengimbangi Kwee Ceng. Dan bertarung imbang dengan Biksu It Teng Taysu serta Chiu Pek Thong (Bocah Tua Nakal). Namun sangat jeri dengan ilmu gaib dari Oey Yok Su.

Ia jugalah yang membunuh Kiu Cian-Jin, mantan Pangcu Tiat Ciang Pang (ketua Partai Tapak Besi).
Akhirnya ia tewas tertimpa tangga buatannya sendiri ketika bertarung dengan Yo Ko, saat hendak membakar Kwee Siang, meskipun dalam hatinya sangat menyayangi dan menginginkan Kwee Siang menjadi murid dan ahli warisnya.

* * *



* * * * * Choirul Huda * * * * *

___________________________________________________________________

Note: Sumber Tulisan serta Gambar Ilustrasi dalam postingan ini sangatlah banyak, karena saya mengambil beberapa dari Wikipedia, Blog, Forum, Komunitas, Milis dan berbagai sumber lainnya di Internet serta dokumentasi koleksi novel silat pribadi.
Tapi, yang bisa saya sebutkan hanya satu, yaitu GOOGLE. Karena dari sanalah saya dapat memposting artikel ini...
___________________________________________________________________








* * * Created By: http://roelly87.blogspot.com/ * * *

Minggu, 17 Juli 2011

Serial Wayang: Kresna (Manusia Setengah Dewa - Antara Cerdik dan Licik)

Tokoh yang Protagonis sekaligus Antagonis, disukai sebagian orang dan dibenci oleh sebagian yang lain tidaklah banyak, tokoh yang tahu kabaikan dan kejahatan tetapi kadang melakukan keduanya tanpa merasa bersalah, salah satu yang paling menonjol untuk dibicarakan justru tokoh yang dikenal merupakan titisan Batara Wisnu yaitu Prabu Kresna.

Kresna versi Wayang Kulit


Banyak versi yang menceritakan asal usul Kresna ini, ada versi yang mengatakan Kresna merupakan anak dari Prabu Basudewa yang berbeda ibu dengan Baladewa dan diselamatkan dari usaha pembunuhan oleh Kangsa yang mendapat “kisikan” Batara Narada bahwa Kangsa nanti akan terbunuh oleh salah satu putera Basudewa, tapi ada juga yang menceritakan bahwa Kresna dan Baladewa itu anak kembar hanya berbeda warna kulit saja, kalau Baladewa itu “bule” sedangkan Kresna “black skin”, mana yang benar yah tidak usah diperdebatkan.

Jalan hidup Kresna memang unik, lebih banyak berada didaerah abu-abu baik dalam hubungannya dengan Pandawa, cara mengelola keluarganya, taktik dan trik dalam menghadapi masalah sampai kehancuran serta musnahnya negaranya, suatu hal yang kalau menurut pikiran sehat tidak mungkin terjadi dibandingkan nama besar serta kesaktian dan titisan Dewa Wisnu yang disandangnya, tapi itulah yang terjadi dan semua kejadian itu saat Kresna sendiri masih hidup.

Sejak masih muda tokoh ini sudah sangat menonjol, kerabat dekat Pandawa [Ayah Kresna dan Dewi Kunti, ibunya Pandawa itu bersaudara] yang baru mulai berhubungan dengan para Pandawa saat Arjuna ikut sayembara memperebutkan Dewi Drupadi ini dikenal sangat menyayangi Arjuna. Arjuna selain sepupu dan sekaligus ipar Kresna juga sangat patuh pada Kresna, sampai-sampai saat perang Baratayudha Kresna lah sebagai sais kereta perang Arjuna, bukti tanda sayangnya pada Arjuna.


Sebagai Negarawan, Kresna sangat berhasil walau negaranya Dwarawati itu kecil tetapi memainkan peranan sangat penting, mungkin sama seperti posisi Singapore dikelompok negara Asean. Kresna disegani oleh angkatan tua seperti Bisma dan Durna dan ditakuti musuh-musuhnya karena senjata Cakra yang sangat mengerikan ... lebih dahsyat dari bom nuklir ... Cuma radiasi nya tidak sehebat bom nuklir.

* * *

Mempunyai isteri resmi empat, Dewi Jembawati, Rukmini, Setyaboma dan Pratiwi, Kresna sangat menyayangi Raden Samba anaknya dengan Dewi Jembawati, sangat dimanjakan yang berakibat fatal nantinya .. Samba sampai berani mempermainkan dewa Narada dengan berpura-pura menjadi wanita, kutukan Narada karena dipermainkan inilah yang menyebabkan kehancuran negara Dwarawati dan musnahnya bangsa Yadawa [bangsa nya Kresna], anaknya yang lain Gunadewa, adik kandung Samba, tersia-sia hanya karena punya tubuh penuh bulu dan ada ekornya ... kasih sayang yang tidak seimbang diantara anak sangat berlainan dengan “ketokohan” Kresna yang dipanuti banyak orang.

Kresna tahu kalau siapapun yang memperoleh Wahyu Cakraningrat maka keturunannya akan menjadi raja besar, dia menganjurkan Samba untuk mendapatkan wahyu tersebut, sayangnya Samba tidak kuat godaan sehingga wahyu cakraningrat akhirnya jatuh ketangan Abimanyu .. nah mulailah Kresna mendekati Abimanyu dan mengawinkannya dengan puteri nya Siti Sundari [puterinya dengan Dewi Pratiwi] dengan harapan toh keturunannya bisa menjadi penguasa nantinya .. eeeh ndilalah kok ya Siti Sundari ini mandul ... tidak punya anak dari Abimanyu .. tragis juga .. plan menguasai tahta terlepas.

Trik atau taktik yang tidak terpuji juga dilakukan beberapa kali dengan meminjam tangan orang lain, seperti meminta Yudistira “berbohong” saat ditanya Resi Durna, menantang Arjuna memanah rambut saat Setyaki hampir terbunuh oleh Burisrawa, menanyakan kelemahan Salya dengan menyuruh Nakula dan Sadewa yang disayangi Salya karena Kresna sendiri tidak tahu cara membunuh Salya serta menasehati Bima memukul paha kanan Duryudana saat perang tanding dengan alasan yang dicari padahal ada ketentuan dilarang memukul anggota badan dibawah perut, menyuruh Gatotkaca melawan Karna demi menyelamatkan Arjuna, meminta “nyawa” Antareja sebagai “tumbal perang” karena takut kalau Baladewa [sang Kakak] memihak Kurawa pasti kalah lawan Antareja .. masih banyak lagi “usulan” sang penasehat Pandawa ini yang sesungguhnya tidak ksatria.

Kresna Duta: Menyampaikan Perdamaian pihak Pandawa


Sebagai Wayang titisan Wisnu, Kresna memang bertugas untuk “mengatur” jalannya cerita kehidupan agar sesuai dengan “plot” yang sudah dibuat, tidak perduli itu meniadakan keluarga sendiri [kasus Antareja dan Gatotkaca] atau dengan cara “menipu, meminta dengan halus” semua sah dilakukan dengan alasan yang penting tujuan tercapai .. proses bisa diatur.

Sayangnya “sukses” ini tidak diikuti sukses dalam keluarga, memanjakan anak yang disayang dan menganaktirikan anak yang ada kekurangan berakibat fatal, Kresna akhirnya hidup sangat menderita secara batin, sunyi dalam kesendirian ketika seluruh Pandawa sudah tiada dan bangsa Yadawa serta negara Dwarawati musnah, sebagai seorang pertapapun meninggalnya sangat menyedihkan, karena terpanah kakinya .. tokoh yang punya senjata Cakra yang maha hebat dan punya pusaka Kembang Wijayakusuma ternyata mati mengenaskan. Kekuasaan ternyata bukan sesuatu yang harus diagungkan, itu hanyalah titipan saja.

Kresna tokoh yang protagonis sekaligus antagonis, hanya ke ”aku” annya saja yang menonjol, akhirnya tokoh yang dikenal sangat berkuasa dalam menentukan apapun ini harus menerima kenyataan bahwa nasib tidak memihak pada tokoh yang bersifat seperti ini.


* * *



* * * * * Choirul Huda * * * * *

___________________________________________________________________

Tulisan ini untuk bersumber dari Topmdi,net/
Tokoh Yang Protagonis Sekaligus Antagonis

Ilustrasi: Mbah Google

___________________________________________________________________

Tulisan (Original) Wayang Lainnya:

- Wayang: Seni Budaya dan Imajinasi Anak Yang Terlupakan... 

- Seri Wayang II - Wisanggeni (Pertempuran Melawan Seluruh Dewata)  5

- Seri Wayang II - Wisanggeni (Khayangan Suralaya Diguncang Kehancuran!) 6**
- Seri Wayang XXI - Empat Serangkai Terhebat (Wisanggeni, Antasena, Antareja dan Gatot Kaca)
- Turnamen Wayang Sejagat (Memperebutkan Gelar tokoh Wayang terhebat...)









* * * Created By: http://roelly87.blogspot.com/ * * *
        

Minggu, 10 Juli 2011

Wawancara dengan Pelacur Bernama Delima

Delima tersenyum sinis mendengar ucapan Budi. “Itulah, Mas.. Saya kalau ditanya tentang Tuhan dan hukumannya kelak, saya sedikit sensitif.” “Hehehe.. Maaf. Maaf, kalau begitu, Mbak..” “Makanya, Mas.. Kalau jadi orang jangan cuma bisa berkoar-koar tentang kebenaran, lalu kemudian berbuat sok kuasa dan merasa paling benar. Lalu menyakiti banyak orang. Kalau Mas bicara tentang rasa takut pada Tuhan dan menganggap pekerjaan saya ini salah. Kenapa Mas tidak bantu saya keluar dari pekerjaan ini? Kok, ya.. malah mewawancarai saya..?”






Budi tersipu malu mendengar penuturan Delima. Dia sama sekali tidak menyangka hal ini akan diucapkan oleh seorang Delima, seorang Pelacur yang selalu dipandang hina oleh kebanyakan orang.


 * * *

“Silahkan masuk, Mas. Gak usah malu-malu, Hayo..”ucap perempuan itu kepada Budi sambil tangannya menarik tangan Budi untuk masuk ke dalam kamar. “I-iya, Mbak.. terimakasih,” jawab Budi sedikit gugup.

Di dalam kamar, mata Budi menjelajah seluruh ruang yang ada. Hanya ada ranjang besar yang bersisian dengan lemari pakaian yang merangkap sebagai meja rias. Lalu dari arah kaki ranjang, ada sebuah meja dengan sebuah kursi yang tertata rapih. Asbak, gelas minuman serta piring yang berada diatasnya. Poster-poster wanita setengah telanjang terpajang hampir di semua dinding di sisi ranjang.

“Ah, beginikah ruang kerja sekaligus kamar para pelacur itu?” gumam Budi.

“Mas..” tegur perempuan itu lagi kepada Budi. Sebelumnya dia memperkenalkan namanya sebagai Delima. Entah nama samaran atau asli. Budi tidak perduli soal itu. “Eh, iya, maaf.” “Jadi Mas ini cuma mau wawancara saya aja, nih? Gak pake acara tidur bareng, nih?” Perempuan itu mengedipkan matanya dan menggerakan tubuh gemulai mencoba menggoda. Pakaiannya yang dikenakannya memang sangat terbuka, bisa terlihat jelas bagaimana buah dada yang besar itu menggantung menggoda dalam kulit putihnya. Belum lagi rok mini yang ia kenakan. Sedikit saja Delima salah memposisikan duduknya, maka apa warna celana dalamnya itu bisa langsung terlihat. Budi segera menggelengkan kepala dalam gugup. Wajahnya memerah seketika. Beberapa kali menelan ludahnya sendiri.

“ Ya-kiiin..?” Goda Delima lagi. Membuat Budi semakin salah tingkah. Ini pertama kalinya Budi mendatangi tempat pelacuran. Jadi semua serba baru dan sedikit membuatnya risih dan malu Budi. Maklum, dia juga masih laki-laki normal. “Ya-yakin, Mbak..” jawab Budi masih gugup sedikit menundukan kepala. Sedangkan keringat mulai terlihat membasahi wajahnya karena ruangan yang pengap, udara yang panas serta situasi yang membuat gerah diri Budi. Memaksa butir-butir peluh sebesar biji kacang ijo itu keluar. “Ya, rugi saya sebenarnya kalo begini aja, Mas. Kalau langsung tidur kan cepat, tuh. Buka baju terus main dan selesai. Tapi kalo wawancara??.. Yaaa, pasti lama ya, Mas?” Delima terlihat sedikit enggan ketika mengetahui bahwa niat Budi tak berubah meski dia telah mencoba untuk menggodanya. “Tenang, Mbak. Saya Booking Mbak Delima satu hari satu malam pokoknya. Langsung saya bayar cash nanti.” Budi coba menenangkan hati Delima. “Waaah, kalo begitu boleh, Mas. Gak rugi saya juga. Hayo! Mau tanya apa sama saya?!” Delima kembali bersemangat setelah mendengar ucapan Budi yang berniat membooking dirinya satu hari satu malam, hanya untuk sebuah wawancara. Budi duduk di kursi dekat meja, sedangkan Delima duduk di pinggir ranjang tepat di hadapan Budi. Rokok terselip di sela jari-jari tangannya yang lentik.

Akhirnya terjadilah sesi tanya jawab diantara mereka. Pertanyaan yang biasa di lontarkan Budi pada awalnya. Sejak kapan jadi Pelacur? Kenapa jadi Pelacur? Bagaimana dengan keluarga dan masa depannya? Apa rencana ke depannya setelah tua? Dan Delima sepertinya sudah terbiasa dengan semua pertanyaan itu. Dijawabnya tanpa ada ekspresi penyesalan ataupun sedih terlihat di wajahnya. Bahkan Delima sesekali tertawa cekikian geli saat bercerita tentang pengalaman pahit hidupnya sebelum dan sesudah menjadi pelacur.

Keakraban mulai terlihat di antara mereka, sedangkan Budi sendiri juga sedikitnya mulai tenang, jauh dari perasaan grogi sebagaimana awalnya. Dari sorot matanya, Budi menyimpan rasa kagum akan sosok Delima yang sepertinya menganggap semua kejadian yang menimpa kehidupannya adalah hal-hal bodoh yang memang perlu ditertawakan. Meskipun Budi sendiri meragukan kebenaran cerita Delima. Budi sadar betul, hal-hal seperti yang dilakukannya saat ini, mewawancarai, sudah sering pula menjadi pertanyaan dalam perbincangan antara Delima dengan para pelanggannya. Yang kadang dibuat-buat demi menarik simpati semata.

* * *

“Kenapa Mbak Delima tidak pernah mencoba mencari pekerjaan lain? Menjadi TKW misalnya..” Sebuah pertanyaan diajukan Budi.

Delima yang baru saja hendak menghisap rokoknya, sejenak melirik ke arah Budi. Mulutnya sudah menganga, rokok telah berada di depan mulutnya. Namun gerak tangannya berhenti. Lalu mulai berbicara,” Mas ini seperti tidak tahu saja, bagaimana kabar tentang nasib para TKW dan TKI di negeri orang. Daripada berada di Negeri orang disiksa atau dihukum mati. Yaa, mending ngalamin itu semua di negeri sendiri, Mas..” Setelah berkata itu, gerak tangannya yang memegang rokok dilanjutkan. Tidak lama kemudian, asap keluar dari sela bibir dan juga hidungnya. “Hmm.. ada benarnya juga sih, Mbak. Tapi.. Apa Mbak tidak berniat untuk menikah lagi? kan kasihan anak-anak Mbak Delima kalau tahu Ibunya bekerja seperti ini.” “Saya sudah menikah kok, Mas. Suami saya malah yang nyuruh saya bekerja seperti ini.” “Lho??..” “Iya. Suami saya itu pengangguran kelas berat. Susah cari kerja dan sudah malas sepertinya. Makanya, supaya dia bisa tetap makan dan senang-senang dengan perempuan lain. Saya yang disuruh cari uang.” “Hah?! Yang bener, Mbak?!” “Lho? Memang begitu kenyataannya.”

Budi diam sejenak dalam rasa tidak percaya mendengar cerita Delima. Apa benar demikian yang terjadi sesungguhnya? Akh, serasa tidak mungkin. Tapi…. “Itu suami Mbak yang pertama?” tanya Budi melanjutkan rasa ingin tahunya. “Bukan. Itu suami saya yang ke-3, Mas” “Apa?! Yang ketiga?!!”

Delima tertawa melihat ekspresi Budi yang terkejut, tidak percaya dengan apa yang baru saja ia katakan. Sambil tertawa cekikikan, Delima menganggukan kepala, ”Iya. Yang ketiga”

Budi menggelengkan kepala takjub. Pertama soal suami yang menyuruh Istrinya melacurkan diri. Lalu kini, Delima mengatakan perkawinan dalam hidupnya, yang bukan hanya sekali. Tapi.. tiga!!

“Mas sudah menikah?” tiba-tiba Delima melempar pertanyaan balik. Membuat Budi sedikit gelagapan untuk menjawab. “Be..Belum, Mbak. Belum laku. Belum ada yang mau sama saya..”

Kembali Delima tertawa cekikikan, mirip kuntianak yang mendapat kesenangan setelah berhasil menakut-nakuti manusia. Disisa tawanya, Delima kembali bertanya kepada Budi. “Jadi.. Mas ini masih bujangan, toh?”

Budi tertunduk malu. Hanya menganggukan kepala yang menjadi jawaban untuk diberikan kepada Delima. Kamar itu mendadak menjadi riuh oleh tawa Delima. Sedangkan wajah Budi mendadak matang menahan malu. Ah, kenapa mesti malu menjadi bujangan? Gumam Budi sendiri.

“Kalau begitu, Mas ini pasti suka sekali Onani, yah?” Delima melemparkan tanya sambil senyum-senyum genit mengerlingkan mata. “Tidak! Mbak Delima ini sok tahu kadang, yah?!” “Lho??

Biasanya lelaki itu begitu, Mas. Kelihatannya aja alim dan tidak suka perempuan. Padahal diam-diam dia sering berhayal sambil onani. Dan akhirnya ketika menikah… Melempem!! Hahaha…” tawa Delima pecah memenuhi kamat itu sekali lagi. Budi hanya senyum-senyum mendengar ucapan Delima dan melihat tingkahnya itu. “Kok, Mbak Delima bisa tahu, sih?”tanya Budi kemudian kembali menguasai keadaan. Bukankah seharusnya ia yang bertanya, kok, malah Delima yang jadi banyak bertanya sekarang?

“Itu karena pelanggan yang biasa datang kesini. Kemampuannya di bawah rata-rata semua. Dan mereka suka curhat sama saya, Mas” “O-oh..pantess… hapal betul.” “Ya, tidak semua begitu, Mas.” “Jadi? Dalam hubungan sex itu, siapa yang lebih bisa memuaskan Mbak Delima ini? suami atau pelanggan?” “Ya, suami saya lah, Mas..”

“Waah, suami Mbak hebat kalau begitu!”

* * *

Tawa mereka berdua kini memenuhi ruang kamar itu. Perlahan-lahan Budi mulai bisa melepas ketegangan yang semenjak awal memang menguasai dirinya. Tapi untunglah semua kini berjalan jauh lebih menyenangkan, berbeda dengan apa yang ada dalam pikiran Budi selama ini.

Delima sejenak beranjak bangkit dari duduknya dan menghampiri Budi yang masih sedikit menyisakan tawa di wajahnya. Lalu sengaja berhenti tepat di hadapan Budi yang duduk di kursi. Posisi berdiri Delima dan posisi duduk Budi, adalah posisi dimana buah dada yang besar itu tepat berada di depan wajah Budi. Seketika wajah Budi memerah, keringat mulai kembali bercucuran salah tingkah. Dan kembali Budi menelan air liurnya sendiri. Delima tersenyum, membungkukkan tubuhnya hingga wajahnya tepat menghadap wajah Budi. Dekaaatt.. sekali.. dalam posisi itu, Budi bisa melihat belahan dada Delima yang menyembul keluar. Kakinya gemetar seketika, seiring desakan dari dalam celana yang mendadak terasa sempit. “Mbak….” Suara Budi berubah serak. “Yaa…” “Tolong… doong…”

“Tolong apa, Mas...?” “Jangan goda saya teruss….” Delima tergelak seketika. Sementara Budi tertunduk malu. “Mas..Mas… Kamu itu masih polos ternyata, yah?”ucap Delima kemudian.

“Mungkin, Mbak.. tapi niat saya benar-benar hanya ingin mewawancarai Mbak Delima, untuk bahan dalam membuat cerita, Mbak.” “O-oh.. Jadi mas ini wartawan, toh?!” “Bukan, Mbak..” “Penulis??..”

“Nggg.. Baru belajar, Mbak…” “Oh, jadi saya ini bakal jadi tokoh dalam cerita, Mas?” Budi menganggukan kepala, ”I-iya, Mbak.. kira-kira seperti itu” “Hmmm… boleh juga..”
Delima kembali duduk di tepi ranjang di hadapan Budi. Namun kini kedua kakinya dinaikan ke atas ranjang, sedangkan tubuhnya bersandar pada tembok kamar. “Jadi menurut Mbak Delima itu, tentang lelaki itu bagaimana?” tanya Budi kembali bertanya. Sejenak Delima seolah tengah berfikir sebelum akhirnya menjawab pertanyaan Budi, “Sebenarnya laki-laki atau perempuan itu sama aja, Mas. Sama-sama memiliki sifat dasar sebagai manusia yang memiliki nafsu.” “Maksud,Mbak?” “Iya. Sama-sama manusia yang memiliki keinginan dan mimpi-mimpi. Memiliki perasaan marah, suka, sedih, bahagia dan lain-lain. Sama saja, Mas” “O-oh, begitu. Lalu?” “Iya, sebenarnya semua sifat lelaki dan perempuan itu sama saja. Kalau lelaki suka dengan perempuan karena nafsu, bukan berarti perempuan itu tidak punya nafsu terhadap laki-laki. Kalau tidak begitu, mungkin tidak akan pernah ada perselingkuhan kali, Mas.”

Budi cengengesan sambil manggut-manggut tanda mengerti maksud dari ucapan Delima. Budi sebenarnya tidak menyangka kalau ternyata seorang perempuan seperti Delima bisa memiliki pemikiran seperti itu. Hal itu semakin membuat Budi semakin ingin tahu lebih jauh tentang Delima dan juga kehidupan yang ia jalani. “Kenapa Mbak Delima mau bertahan dengan suami Mbak itu? Padahal sudah jelas-jelas dia suka main perempuan, bermodalkan uang dari hasil jerih payah Mbak setiap hari.”

* * *

Untuk kali ini, sejenak Delima menghela nafas panjang. Pandangannya jauh menerawang ke dalam pikiran dan perasaannya sendiri. Akhirnya, Budi bisa melihat bagaimana Delima juga memiliki perasaan yang sensitif sebagai perempuan. Delima menyalakan kembali sebatang rokok untuk dihisapnya. Asap kembali menari-nari di udara memenuhi kamar itu.

“Bagaimana ya, Mas… Saya sangat mencintai suami saya dan selama ini saya lihat dia jujur. Tidak ada hal yang dia tutupi dari saya. Dari semenjak pacaran dulu, saya sudah tahu sifat-sifatnya seperti itu. Walaupun sebenarnya saya sakit hati, tapi saya juga bukan orang suci. Karena, seperti yang Mas tahu, kalau pekerjaan saya ini bukanlah pekerjaan perempuan baik-baik. Yang penting sama-sama mengerti dan tidak main pukul sajalah. Itu sudah cukup buat saya, Mas.” “Bisa ya, Mbak, seperti itu?..” Budi menggelengkan kepala tidak percaya dengan apa yang ia dengar. Semua ini di luar dugaan.  Apa benar cerita sesungguhnya seperti itu? Budi tidak tahu pasti. Tapi dari sorot mata Delima, Budi bisa melihat bagaimana semua itu dituturkan dengan kejujuran tanpa dibuat-buat. “Ya, bisa lah, Mas! Buktinya saya bisa seperti itu dengan suami saya,” Delima tersenyum nakal kembali.

“Eh, iya-ya, Mbak..” Budi juga ikut senyum cengengesan. “Tapi Mbak Delima tidak takut akan dosa dan hukuman Tuhan?”

Sejenak Delima tertunduk. Wajahnya berubah sedih mendengar pertanyaan itu. Berat dirasa dalam hatinya kembali membebani. Namun sepertinya ia mencoba untuk tegar dan tidak terlihat cengeng di depan Budi. Dihisapnya kembali rokok di tangan untuk mengalihkan perasaannya itu. “Mbak…” Delima tersenyum sambil mengarahkan wajah menatap Budi. “Pertanyaan agak susah ya, Mas..”

“Memangnya kenapa?” “Untuk urusan Tuhan.. Saya sebenarnya tidak terlalu suka, Mas. Itu hal yang sangat pribadi dan sensitif bagi semua orang.” “Hmm.. saya kurang paham maksud, Mbak Delima.”

“Semua orang selalu merasa benar atas keyakinan mereka, Mas.. Keyakinan yang satu merasa paling benar atas keyakinan yang lain. Lalu bertengkar dan berselisih paham. Bahkan kadang mengatas namakan Tuhan atas perbuatan-perbuatan kasar yang mereka lakukan. Mungkin apa yang mereka lakukan itu benar. Tapi caranya salah, Mas.. Itu sering terjadi di sini. Kami sering dirazia oleh orang-orang yang mengatasnamakan kebenaran Tuhan untuk melukai kami dan merusak mata pencaharian kami.” “O-oh.. saya pikir apa.” “Kami memang pelacur dan kami memang bersalah atas pekerjaan ini. Tuhan juga sudah jelas-jelas mengharamkan setiap perbuatan kami ini. Tapi apa maksud Tuhan atas semua larangannya itu? Toh, semua itu buat pribadi manusia itu sendiri, buat kita masing-masing. Mungkin karena Tuhan tahu bahwa perbuatan kami akan berakibat buruk terhadap diri kami sendiri, seperti risiko terkena penyakit menular, disiksa atau sampai dibunuh. Dan bukan cuma masalah kehidupan saja. Kami juga merasakan di dalam hati ini akibat pekerjaan kami, Mas. Semua larangan itu saya anggap untuk kebaikan saya, agar terhindar dari semua itu, Mas.” “Wah. Wah.. Mbak Delima ini hebat rupanya. Saya benar-benar tidak menyangka kalau Mbak bisa berfikiran seperti itu,” ucap Budi penuh kekaguman.

* * *

Delima hanya hanya tersenyum kecut menerima pujian itu. Tatap matanya begitu sendu seolah duka yang selama ini disimpan erat-erat, akhirnya terbongkar setelah sekian lama.

“Jadi.. saat semua orang menghakimi saya dan memandang rendah pekerjaan saya ini. Saya tidak terlalu perduli, karena saya tahu Tuhan tidaklah sepicik yang dipikirkan banyak orang. Tuhan menginginkan kebahagiaan hamba-hambaNya. Seperti orang tua yang juga menginginkan kebahagiaan anaknya. Melarang si anak untuk berbuat ini-itu, semata demi kebaikan si anak itu sendiri. Sebab orangtua lebih mengerti kehidupan ini dibanding anak-anaknya. Mungkin Tuhan seperti itu. Tapi kebanyakan manusia selalu merasa paling tahu dan paling benar, Mas. “

Setelah panjang lebar Delima bercerita, ia berhenti sambil memandang langit-langit kamar. Tenggelam dalam perasaannya sendiri. Budi sendiri jadi tidak tahu apa yang harus ia katakan pada saat itu. Hanya berkata seadanya untuk menetralisir keadaan seperti semula yang penuh dengan tawa dan canda mereka. “Ya, namanya manusia, Mbak. Ya, seperti itu sifatnya..”

Delima tersenyum sinis mendengar ucapan Budi. “Itulah, Mas.. Saya kalau ditanya tentang Tuhan dan hukumannya kelak, saya sedikit sensitif.” “Hehehe.. Maaf. Maaf, kalau begitu, Mbak..” “Makanya, Mas.. Kalau jadi orang jangan cuma bisa berkoar-koar tentang kebenaran, lalu kemudian berbuat sok kuasa dan merasa paling benar. Lalu menyakiti banyak orang. Kalau Mas bicara tentang rasa takut pada Tuhan dan menganggap pekerjaan saya ini salah. Kenapa Mas tidak bantu saya keluar dari pekerjaan ini? Kok, ya.. malah mewawancarai saya..?”

Budi tersipu malu mendengar penuturan Delima. Dia sama sekali tidak menyangka hal ini akan diucapkan oleh seorang Delima, seorang Pelacur yang selalu dipandang hina oleh kebanyakan orang.
Sambil garuk-garuk kepala yang tidak gatal, Budi berkata kepada Delima,”Maaf, Mbak.. Saya cuma bisa bantu Mbak dengan mengangkat cerita Mbak ini nanti. Itupun kalau saya bisa. Kalau tidak?! Ya, maaf. Karena cuma segini kemampuan saya, Mbak.”

Delima tersenyum kepada Budi. Lalu bangkit dari ranjang menuju meja untuk mematikan puntung rokok diatas asbak. “Gak apa-apa, Mas.. Saya suka dengan orang yang seperti Mas ini. Tidak munafik seperti kebanyakan orang.” Budi tersenyum bangga mendengar ucapan Delima. Sedikit merasa senang karena dirinya tidak dimasukan ke dalam golongan orang-orang yang tidak disukai Delima, sebagaimana penuturannya tadi.

“Ya, Mudah-mudahan, Mbak.. Dengan menjelaskan kepada semua orang, bahwa ada baiknya tidak hanya bisa menghakimi orang lain dan menilai buruk pekerjaan Mbak. Tapi lebih pada mengangkat mereka keluar dari keterpurukan hidup dalam tindakan yang nyata. Semoga akan banyak orang yang mengerti, Mbak” ucap Budi mantap. Delima kembali tersenyum dengan senang.”Mudah-mudahan, Mas…”

…… Jakarta, 05juli2011 Dari sudut malam Kota jakarta (Oase Kompas.com)

* * *




* * * * * Choirul Huda * * * * *

___________________________________________________________________

Tulisan ini untuk bersumber dari Kompas.com

Wawancara dengan Pelacur Bernama Delima

___________________________________________________________________








* * * Created By: http://roelly87.blogspot.com/ * * *