Sabtu, 26 Maret 2011

Seri Wayang II - Wisanggeni (Menggemparkan Khayangan!)

...lusuh lalu tercipta mendekap diriku
hanya usang sahaja kudamba Kirana
ratapan mulai usang  'NUR'  yang kumohon
kuingin rasakan cinta...
"manis seperti mereka"
* * *


13009110351694227470
Wayang Golek BATARA GURU
Sementara itu Batara Indra, Batara Bayu dan Batara Surya sedang bisik-bisik diantara bertiga. Serupa dengan para Dewata yang lainnya, hanya bisa terdiam dan memikirkan apa yang terjadi berikutnya. Begitu juga dengan Batara Guru, tampak duduk di singgasanana, dengan pandangan mata jauh kedepan. Hanya Batara Narada yang tidak menampakkan ekspresi apapun pada raut mukanya. Dari wajahnya terpancar ketenangan yang luar biasa, tidak seperti Dewa-dewa lainnya.

Agak lama kemudian, barulah Batara Brama beranjak dari tempat duduknya, kemudian ia melirik Batara Guru untuk meminta persetujuan. Batara Guru hanya mengangguk kecil, tanda ia mempersilahkan Batara Brama menjawab pertanyaan dari Wisanggeni.

"Duhai Cucuku, Wisanggeni. Baiklah aku akan mencoba untuk menjawab semua pertanyaanmu itu. Yang pertama adalah karena Batari Durga menginginkan anaknya, Dewasrani untuk meminang Ibumu, yang..."

"Ok, aku sudah paham. Padahal Ibuku telah bersuami, tetapi karena suaminya adalah Manusia, maka kalian tidak menyetujuinya. Baiklah aku akan membuat perhitungan dengan Dewasrani, Batari Durga dan juga si pecundang Batara Kala. Catatlah oleh kalian baik-baik, setelah keluargaku utuh, maka aku akan menghajar mereka sampai merasakan mati segan, hidup tak mau...!" Wisanggeni memotong pembicaan dengan cepat.

Gemparlah seluruh Dewata mendengar perkataan dari Wisanggeni. Bukan apa-apa, karena para Dewata tahu arti ucapan dari Wisanggeni, yang berani berbuat juga berani melakukan. Semua pandangan tertuju pada Batara Guru, suami Batari Durga sekaligus Ayah dari Batara Kala...

Kemudian Batara Brama melanjutkan, "Yang kedua adalah karena, itu, itu..."

Dengan tertahan Batara Brama melanjutkan perkataannya sambil memandang Batara Guru.

"Cukup, aku sudah mengetahuinya. Kau melakukan itu karena titah dari Batara Guru, Pemimpin dari Para Dewata di Khayangan. Tindakanmu tidak dapat disalahkan, karena sebagai bawahan, mau tidak mau harus menuruti perintah dari atasan. Perlakuanmu itu akan aku catat dalam dosa Batara Guru..." Sahut Wisanggeni dengan nyaring.

Makin gegerlah seluruh Khayangan, lagi-lagi seluruh pandangan tertuju pada Batara Guru. Sementara itu awan dilangit tampak gelap, dan petir saling bersahutan pertanda yang buruk akan terjadi nanti.

Batara Guru, tampak tenang seperti tidak merasakan apa-apa, hanya sedikit bergumam "hmm".

Lalu, Batara Brama melanjutkan kembali jawabannya. "Untuk pertanyaan yang ketiga, Ayahandamu adalah Arjuna. Putra Pandudewanata dari kerajaan Hastinapura, dan sekarang bermukim di Madukara. Ia adalah Ksatria Penengah Pandawa, berwajah tampan dan juga memiliki banyak istri serta mempunyai banyak anak".

"Hanya itu yang mampu kukatakan saat ini mengenai Ayahmu, Arjuna. Untuk lebih lengkapnya lagi, kau bisa menemuinya di Madukara. Dan satu yang kuminta darimu, janganlah sampai membuat onar disana. Karena disamping mereka sedang mempersiapkan diri untuk berperang melawan pihak Kurawa, juga disana banyak ksatria tangguh yang bermukim, seperti Antareja, Antesena, Gatot Kaca serta Sri Kresna, Sang Titisan Wisnu. Jadi aku berharap, jangan coba-coba untuk memancing keributan".

Wisanggeni terdiam agak lama, sambil menengadahkan kepalanya keatas langit...

* * *

Diatas langit yang kelam dan gelap-gulita, tersirat suatu siklus kehidupan yang senantiasa silih berganti.

"Terima kasih untuk jawaban dari Kakek, meskipun aku kurang puas dengan perlakuanmu yang dahulu, tapi sedikitnya sudah mengobati rasa penasaranku ini. Dan sekarang, Wahai Batara Guru. Aku ingin meminta penjelasan darimu serta Pertanggung jawaban atas kejadian yang menimpaku selama ini".

Dengan tatapan tajam, Wisanggeni mengalihkan pertanyaannya terhadap Batara Guru.


13009133901113710779
BATARA GURU versi Wayang Kulit

"Wahai Sang Penguasa Jagad, Sanghyang Batara Guru. Aku ingin menanyakan tentang rasa penasaranku ini kepadamu. Sudah siapkah engkau untuk menjawabnya?"

"Aku siap untuk menjawab pertanyaanmu, Wisanggeni, cucundaku serta anak dari Penengah Pandawa. Silahkan saja, keluarkan uneg-uneg yang selama ini membelenggumu..." jawab Batara Guru dengan tenang.

"Huh, sudah cukup basa-basi terhadapku ini. Terus terang saja, aku sama sekali tidak suka dengan omongan orang yang bertele-tele. Langsung saja pada intinya!!!"

Semua Dewata  terkaget-kaget saat melihat tingkah laku Wisanggeni yang terkesan angkuh dan sombong. Dihadapan Batara Guru saja ia berani berbuat begitu, tidak memakai sopan santun segala. Batara Indra sudah siap siaga ingin meringkus Wisanggeni, dengan tangan mengepal ia siap menyerang Wisanggeni kapan saja. Tapi kemudian ditahan oleh Batara Guru, supaya jangan mencampuri urusannya.

Akhirnya Batara Guru, beranjak dari singgasananya. Dan menghampiri Wisanggeni. Semua Dewata menatap dengan cemas, takut sesuatu yang buruk akan menimpa Khayangan.

"Wisanggeni, perihal tentang kelahiranmu yang sangat tidak direstui olehku, memang itu adalah kesalahanku. Dan aku siap bertanggung jawab untuk meluruskannya kembali".

"Apa yang harus diluruskan, Wahai Batara Guru. Aku sudah mengetahuinya. Meskipun aku adalah makhluk yang terbuang, tapi jelek-jelek begini aku bisa mengetahui tentang masa lalu, sekarang dan masa depam. Tidak usah kau jelaskan pun aku sudah mengetahuinya. Dan sekarang aku hanya minta tanggung jawab serta sangksi untuk kelalaian khilafmu itu. 
Untuk urusan yang lain, biar aku yang urus sendiri!"

"Jadi apa yang harus aku tanggung, Wisenggeni?"

"Aku ingin kau mengaku salah dihadapan para Dewata, Manusia serta raksasa yang ada di semua alam. Biar mereka tahu bahwa Engkau sebagai Penguasa Dewa pun bisa berbuat salah terhadap manusia, khususnya terhadap aku"

"Demi cinta kasihmu terhadap Batari Durga, engkau rela menitahkan bawahanmu Batara Brama untuk memisahkan ikatan perkawinan antara Ibuku dengan Ayahku Arjuna. Dimana rasa Kedewaanmu melihat aku sewaktu bayi dibuang begitu saja di kawah Candradimuka yang panas dan bergejolak itu? Dimana rasa keadilan yang sangat diagungkan oleh seluruh manusia terhadapmu, ketika tahu Dewasrani ingin mengawinkan Ibuku, padahal beliau  masih terikat dengan Arjuna? Dan dimana rasa Kebijaksanaanmu itu saat tahu tindakan Batari Durga salah, tapi masih tetap dilakukan?"

"Apakah karena rasa cintamu itu terhadap Batari Durga, hingga melenyapkan akal pikiranmu serta menggelapkan matamu sebagai Dewa Tertinggi?"

"Mengapa juga kau tidak tegas terhadapnya? Atau jangan-jangan kau takut terhadapnya, atau juga yang terparah ini, Gelar Penguasa Dewa, aslinya bukan kau sendiri yang pegang, tapi Batari Durga yang memiliki kekuasaan penuh terhadap seluruh alam semesta ini?"

Batara Guru, terdiam untuk beberapa lama. Kemudian ia berkata, "Wisanggeni, meskipun perbuatanku ini salah dan menyalahi kodrat serta aturan yang berlaku. Tapi ini sudah kehendak takdir, terserah kau mau berkata apa, tapi memang beginilah hidup!"

"Huh, jadi dimana kewibawaanmu sebagai Sang Batara Guru. Kalau memang takdirku sudah seperti ini, maka aku adalah orang pertama yang akan keluar dari garis hidup. Dan aku sendiri yang akan menentukan takdirku serta takdir penghuni semesta ini" Jawab Wisanggeni berapi-api, Karena ia tidak mendapatkan jawaban yang tepat dari Batara Guru".

Saat ketegangan sudah memuncak, datanglah beberapa prajurit khayangan yang memberitahu bahwa Batara Kala datang dan hendak menemui Batara Guru.

"Salam sejahtera, Wahai Ayahanda tercinta Sanghyang Batara Guru. Ananda menyampaikan sembah bakti kepadamu, Sang Penguasa Jagad" Tutur Batara Kala, saat pertama kali memasuki ruangan.

"Silahkan masuk anakku, Batara Kala" sambut Batara Guru, tanpa ekspresi.

Kemudian Batara Kala, melangkah masuk menuju Batara Guru. Dan saat tinggal beberapa meter lagi jaraknya, tiba-tiba ia berhenti tatapannya terhenyak saat melihat Wisanggeni. Dan hidungnya mencium sesuatu, "Wahai, Ayahanda. Anandamu ini mencium bau tak sedap yang sangat sekali, hingga hampir mengacaukan pikiranku ini. Sebenarnya ada apa gerangan yang terjadi?" saat itu tangan Batara Kala sudah hampir menyentuh Wisanggeni, kemudian Batara Guru segera meneriakinyaa agar tidak sembarangan, tapi terlambat sudah. Wisanggeni yang telah memuncak amarahnya segera menghantam Batara Kala dengan sekuat tenaga.

"Jangan coba-coba menyentuhku, makhluk keparat!" sahut Wisanggeni seketika.

"Tunggu... " teriak Batara Guru, seketika memecahkan keheningan khayangan.

Tapi terlambat, tubuh besar nan tinggi Batara Kala sudah terlempar sejauh belasan meter hingga ke pintu Istana Jonggringsalaka.

* * *


Bersambung...
                 Choirul Huda


_____________________________________________________________
Sumber:
Penamaan dan Foto: Wikipedia, Google
Lirik: Kirana (Dewa 19)
_____________________________________________________________
Tulisan-tulisan terkait:
- Seri Wayang IV - Wisanggeni (Mengalahkan Batara Kala, Batari Durga dan Dewasrani)
- Seri Wayang XXI - Empat Serangkai Terhebat (Wisanggeni, Antasena, Antareja dan Gatot Kaca)
* * *
* * *
* * *


"kalau  BUKAN  KITA  SENDIRI  yang melestarikan wayang,
harus siapa lagi?
atau...
haruskah menunggu warisan budaya leluhur 
diambil alih oleh pihak asing?
sehingga kita repot BERTERIAK 
untuk mengakuinya lagi...!"


Rabu, 23 Maret 2011

Seri Wayang II - Wisanggeni (Menggugat Dewata)

...kucoba memahami tempatku berlabuh
terdampar di keruhnya satu sisi dunia
hadir dimuka bumi, tak tersaji indah
kuingin rasakan cinta...


13008445132008000898
Wisanggeni

Kemudian Wisanggeni bertanya kepada Batara Guru, perihal kenapa Ia dikucilkan dari kehidupan. "Wahai, Sanghyang Penguasa Jagat. Mengapa ananda harus disingkirkan dari muka bumi ini, padahal ananda sama sekali tidak bersalah. Dan juga bukan maksud ananda sendiri untuk minta dilahirkan ke dunia yang fana ini...!"

"Bukan maksudku, begitu wahai Wisanggeni, anakku. Tapi itu semua sudah menjadi ketetapan dari suratan Dewata yang sudah menggaris bawahi lakon manusia" Jawab Batara Guru.

"Garis Dewata apanya, Wahai Batara...?" Jawab Wisanggeni tidak sabaran.

"Sebenarnya, kematian dan kelahiran manusia didunia sudah ditakdirkan, dan tidak akan bisa dirubah oleh siapapun, termasuk Dewata sendiri" Batara Guru melanjutkan.

"Lalu, mengapa aku sampai harus dibunuh, dan juga terusir secara nyata dari kehidupan ini! Semenjak aku lahir hingga sekarang, aku selalu sendirian. Tidak ada yang menemani, kecuali Batara Antaboga dan Batara Baruna, bahkan Ibuku sendiri tidak dapat aku menemuinya. Apalagi terhadap ayahku yang melahirkan ini. Mereka semua entah tidak ada yang mengasihiniku. Dan aku merasa dikucilkan!" sahut Wisanggeni dengan kemarahan yang mulai tampak.

Sabar anakku, duhai Putra Arjuna, sang Penengah pandawa. Didunia ini ada hukum sebab-akibat, antara hak dan kewajiban, dan juga hitam melawan putih. Jadi anakku, engkau mesti nerima apa yang sudah digariskan oleh Dewata" dengan sabar Batara Guru, menjelaskan.

"Fiuuh, aku sungguh muak mendengar ocehanmu yang sangat menyebalkan itu. Dari lahir, hidupku sudah merasa terasing. Bahkan ketika bayi pun, aku sudah mau dimusnahkan oleh Kakekku sendiri, yang berjuluk Batara Brahma. Dimana rasa keadilan dari kalian, para Dewata yang tugasnya menjaga keseimbangan alam!"

"Duhai Wisanggeni, anakku" Batara Guru melanjutkan.

"Diam, aku tidak mau mendengar ocehanmu tentang takdir ataupun kodrat yang sampah itu!" Potong Wisanggeni, dengan muka merah pertanda amarah yang akan memuncak.

Kemudian, Wisanggeni beralih pandangan ke arah para Dewata yang sedang memandanginya. Seakan para Dewata yang lain tak percaya, ada manusia yang berani membentak Sang Batara Guru, Dewa Penguasa alam.

Dan wisanggeni, menatap tajam kearah batara Brama, "Wahai Kakekku, Sanghyang Batara Brama, mengapa engkau sama sekali tidak menolak permintaan dari Batara Guru yang tidak masuk akal itu? mengapa Engkau tega membuang diriku, cucumu sendiri ke dalam kawah Candradimuka yang panas bergelora itu?"

Batara Indra, menyahut "Duhai, anakku Wisanggeni, janganlah engkau menuruti hawa nafsu. Batara Brama adalah sesepuh dalam Khayangan. Jangankan manusia, para Dewata saja tidak berani membentaknya?"

"Hee Indra, Raja dari segala Dewata. Aku tidak sedang berbicara denganmu. Saat ini aku sedang bertanya kepada Kakekku, Batara Brama. Aku tidak mempunyai permasalahan dengan engkau, tapi kalau engkau berani merintangi usahaku ini. Bukan aku lagi yang menanggapi, tetapi tanganku ini yang akan berkenalan denganmu!" Jawab Wisanggeni dengan senyum sinis kepada Batara Indra.

"Jadi kau berani menantangku, Wisanggeni? Duhai manusia setengah dewa yang congkak dan angkuh!" dengan langkah lebar, Batara Indra melangkah menuju Wisanggeni.

"Aku siap menerima tantanganmu, saat ini juga" sahut Wisanggeni tidak mau kalah.

Kemudian Batara Indra, mengeluarkan kesaktiannya untuk ditujukan pada Wisanggeni. "Rasakan ini pelajaran dariku..."

* * *

Tapi sebelum, senjata itu terlepas dari genggaman tangannya, sudah tertahan oleh Batara Brama dengan wajah halus dan ramah. "Tahanlah amarahmu, wahai Batara Indra, tidak sepantasnya Anda berurusan dengan cucuku yang belum berpengalaman ini. Sebelumnya aku minta maaf, karena telah melibatkan anda. Tapi, urusan ini biar Aku saja yang menanggungnya. Sekali lagi, kepada Dewata yang lainnya, Hamba berterima kasih, sudah mau membantu masalah dalam diriku yang rumit ini".

"Baiklah, Sang Batara Brahma, aku minta maaf atas kelancanganku ini". Kemudian sambil mengawasi dengan tajam, Batara Indra kemudian berangsur mundur dari hadapan Wisanggeni.

"Ha ha ha, bahkan seorang Batara Indra pun tidak berani menantangku" ejek Wisanggeni, yang membuat merah muka Batara Indara.

"Duhai cucuku, yang agung. Mengapa sampai hati membuat keonaran di Suralaya ini. Tempat yang suci ini tidak semestinya mendapatkan kegaduhan bahkan dari seorang dewa pun..." Batara Brama, berkata kepada Wisanggeni.

"Wahai Batara Brama, yang seumur hidup ini baru menyebutku dengan panggilan cucu. Sebelumnya aku sangat berterima kasih pada engkau karena telah mengakuiku sebagai cucu didepan umum. Tapi tidak cukup dengan itu saja, aku ingin menanyakan 3 perihal tentang jati diriku yang sebenarnya. Kuharap engkau menjawabnya dengan jujur, kalau tidak. Aku tidak segan-segan untuk membuat kekacauan yang lebih parah lagi di Khayangan ini!" lanjut Wisanggeni.

"Silahkan saja, cucuku. Aku siap menjawab pertanyaan yang engkau berikan". Jawab Batara Brahma dengan tenang.

"Baiklah, pertama. Aku ingin menanyakan, mengapa sejak lahir, aku selalu dikejar-kejar oleh para  Dewata?

Kedua, mengapa Engkau sebagai kakek malah menuruti permintaan yang tidak masuk akal dari Batara Guru untuk membuangku kedalam kawah Candradimuka?

Dan yang ketiga. Siapa Ayahku yang sebenarnya, tadi aku mendengar Batara Guru menyebut nama Arjuna, tetapi wujud dan rupanya saja aku tidak tahu sama sekali."

Dengan mengernyitkan dahi Batara Brama berpikir, untuk mencari jawaban yang masuk akal. Agar cucunya yang pemarah ini tidak sampai murka dan membuat goro-goro di suralaya. Sementara itu Wisanggeni, dengan santainya mendeprok di atas karpet khayangan yang empuk dan sangat nyaman itu.

* * *

Bersambung...


Choirul Huda
____________________________________________________________
Sumber:
Penamaan dan Foto: Wikipedia
Lirik: Kirana (Dewa 19)
____________________________________________________________
Tulisan-tulisan terkait:
Seri Wayang II - Tiwikrama Sri Kresna Yang Menggemparkan Alam Semesta
Invasi Tokoh Komik ke Dunia Wayang ( I )
- Seri Wayang III - Wisanggeni (Menggemparkan Khayangan)
- Seri Wayang XXI - Empat Serangkai Terhebat (Wisanggeni, Antasena, Antareja dan Gatot Kaca)





Jumat, 18 Maret 2011

Ironi Seorang Kupu-kupu Malam...

dosakah yang ia kerjakan
sucikah mereka yang datang
kadang dia tersenyum dalam tangis
kadang dia menangis didalam senyuman...


Irma tersenyum senang, saat salah satu pelanggan setianya, Pak Rizal memberi segepok uang ratusan ribu rupiah. Dengan sumringah ia berkata "Terima kasih Om, atas kunjungan yang luar biasa ini, semoga Om Rizal senang dengan apa yang saya berikan malam tadi..."

Pak Rizal pun melayangkan pujian kepada Irma, dan sebelum ia pergi tak lupa mengecup pipi kiri dari Irma, sembari berkata "He he he, saya suka dengan service yang kamu berikan. Lusa nanti saya akan balik lagi, kalau bisa lebih hot daripada malam ini. Ok."

Dengan langkah lebar, Rizal keluar dari kamar hotel dan segera pergi ke kantornya di kawasan Sudirman untuk kembali bekerja seperti biasa.

Sedangkan Irma, hanya bisa memandang kearah pintu hotel dengan bibir tersenyum, tetapi tatapan matanya menerawang jauh kedepan...

 * * *

Jakarta, Desember 2009.

Awal mulanya, Irma tidak percaya akan sikap Ardi, kekasih yang sangat dicintai sejak 2 tahun lamanya. Dengan mudahnya, Ardi meninggalkan Irma disaat usia kandungannya sudah mendekati 7 bulan. Padahal, akibat pergaulan bebas mereka berdua yang kebablasan, Irma sudah banyak menderita lahir maupun batin. Seperti dikeluarkan dari Kampus, dijauhi teman teman sepergaulan, dan yang lebih parah adalah diusir oleh Orang tuanya, ketika mengetahui Irma hamil sebelum menikah. Saat itu perasaan Irma sangat hancur, dan hampir bunuh diri kalau saja tidak dicegah oleh Ardi. Ardi pula yang meyakini bahwa ia siap bertanggung jawab dengan menjadi Ayah dari bayi yang dikandungnya itu. Tapi itu dahulu, sekarang sikap Ardi sudah berubah seratus delapan puluh derajat. Dengan teganya, Irma dicampakkan bagai seonggok sampah yang sudah terbuang di pinggir jalan.

Irma hanya bisa mengelus dada, saat itu pikiran utamanya adalah bagaimana ia dapat menghidupi bayi yang dikandungnya, dan ketika ia melahirkan nanti.

Ia harus mencari nafkah sendiri, karena Orang tua maupun keluarga sudah menutup pintu untuk menerimanya kembali. Hingga akhirnya ia gelap mata, dan memulai suatu tindakan yang sangat tidak disetujui oleh nuraninya:

Yaitu menjadi seorang Pelacur...

Tiada pilihan lagi, karena berbagai cara sudah dilakukan Irma demi sesuap nasi. Ia pernah melamar menjadi sekretaris di berbagai perusahaan, karena ia mempunyai bekal pernah kuliah. Tetapi satupun tiada yang diterima, mungkin karena melihat penampilannya yang sudah berbadan dua. Dan tidak memungkinkan untuk melakukan pekerjaan. Ia juga pernah menghubungi Ardi dan mendatangi rumahnya, sayang keluarga Ardi sudah pindah ke luar kota, karena tidak mau mendapat aib darinya. Bahkan untuk menghidupi dirinya sehari - hari ia sering mendatangi teman-teman lama yang simpati kepadanya, dan meminjam uang dari mereka. Tapi itu hanya sememntara, dan tidak bisa berlangsung lama.

Sampai suatu ketika, ia bertemu dengan Neyla, teman sejak sekolah menengah dulu,  yang juga bernasib sama dengannya. Kemudian Neyla memberikan sebuah Alternatif untuk bertahan hidup dari kerasnya kota Jakarta ini, yaitu sebagai Kupu-kupu malam...

Meskipun, awalnya Irma tidak ingin, tetapi setelah berpikir panjang dan merenungkan bagaimana caranya supaya nanti ia bisa mempunyai uang untuk biaya persalinan kelak...



kupu-kupu liarku terbanglah kepadaku
hinggaplah dihatiku dan hisap sari cintaku
biar indah tubuhku dijamah-dijamah orang-orang
tapi cinta tulusmu
harus jadi milikku...


* * *

Bersambung...




________________________________________________________________________
Lirik Lagu: Peterpan dan Slank
Gambar: Google
*Tulisan ini tidak bermaksud untuk Memvonis atau menyerang pribadi seseorang. Hanya curahan hati seorang kawan yang kini terperosok dalam lembah hitam.
________________________________________________________________________

Kamis, 17 Maret 2011

Seri Wayang I - Tiwikrama Sri Kresna Yang Menggemparkan Alam Semesta

Prolog


Meskipun aslinya adalah Manifestasi dari Batara Wisnu, sebenarnya Sri Kresna sendiri mempunyai sifat yang sabar, ramah, adil dan bijaksana.


Tapi, entahlah jika Ia sudah tidak bisa menahan amarah lagi, lalu melakukan Tiwikrama.

Akan hancurkah, bumi, khayangan dan seisinya...?

* * *


Adu argumentasi terjadi didalam Istana Negara Hastinapura, debat kusir yang berkepanjangan sungguh memuakkan banyak khalayak ramai. Presiden Duryodana betul-betul kepala batu. Sudah jelas, Sri Kresna datang sebagai utusan yang membawa mandat dari PWW (Persatuan Wayang-Wayang). Padahal menurut hemat Ketua Majelis Perwayangan, Resi Bisma, dan Ketua Dewan Perwakilan Wayang, Arya Widura. Tindakan yang dilakukan oleh Presiden Duryodana sangatlah salah dan  menyalahi aturan. Bahkan Arya Widura, yang masih terhitung paman Duryodana, sempat membentaknya karena tidak mengindahkan nasehat dari Resi Bisma.

"Duryodana, perkataanmu sungguh keterlaluan, dan bukan tindakan seorang Presiden yang sangat menyayangi rakyat! Saya sebagai Paman tidak merestui sama sekali..."

Tapi ditanggapi dengan dingin, oleh Duryodana. "Maaf, Paman. Sekalipun Anda masih terhitung sebagai Keluarga, dan merupakan angkatan yang lebih tua dari Saya, tetapi sekali lagi maaf. Dalam Pemerintahan Negara Hastinapura, Sayalah yang Berkuasa. Berkuasa segala-galanya, meliputi Darat dan Laut serta Udara. Dan Posisi saya jauh lebih tinggi daripada Paman yang hanya ketua Dewan Perwakilan Wayang, serta Kakek Bisma, yang posisinya sebagai Ketua Majelis Perwayangan..."

Akhirnya, karena Bete mendengar perkataan yang sombong dari Duryodana, si Presiden lalim. Sri Kresna langsung menatap dengan geram, dan melayangkan pertanyaan terakhir.

"Presiden Duryodana, Maaf saya bertanya sekali lagi kepada Anda. Maukah Anda untuk berdamai dengan Pandawa, dan mengembalikan Hak mereka?"

Dengan memandang wajah Perdana Menteri, Patih Sangkuni. Duryodana kemudian berkata "Maaf juga untuk Tuanku Sri Kresna, wahai titisan dari Batara Wisnu. Tetapi, kami dari pihak Kurawa, tidak akan mengembalikan negara ini kepada Pandawa, walaupun sejengkal tanah. Dan juga, meskipun seluruh Rakyat yang ada disini menginginkan Referendum untuk berpisah dari Negara Hastinapura. Tidak akan saya izinkan mereka bergabung dengan pihak Pandawa. Titik."

Sri Kresna hanya mampu memandang jauh kedepan, membayangkan ia sedang berhadapan dengan manifestasi dari Penguasa negara kegelapan Alengka terdahulu, Presiden Rahwana. Dan akhirnya, setelah lama terdiam, Sri Kresna kemudian buka suara. "Wahai, Presiden Duryudana, perbuatanmu hari ini akan dicatat oleh seluruh Dewa yang ada di Khayangan dan Bumi. Dan, Tetua disini akan menjadi saksi atas perkataanmu. Semua ucapanmu akan Engkau pertanggung jawabkan di kemudian hari. Saya akan memberitahukan keputusanmu kepada Pandawa!".

Akhirnya, Sri Kresna meninggalkan gedung pertemuan menuju ke sebuah aula yang ada di Istana Presiden. Sri Kresna, kemudian berdiri ditengah-tengah taman itu. Tampak matanya bersinar, tanda amarahnya sedang memuncak. Tiba-tiba muncul raksasa sebesar Gunung yang merupakan Tiwikrama dari Batara Wisnu jika amarahnya tak tertahankan lagi...


1300303672629886543
Tiwikrama Sri Kresna

Kehadiran raksasa ini membuat seluruh kerajaan Hastina menjadi gempar dan ketakutan. Para Kurawa dan Sangkuni mencari tempat yang gelap untuk bersembunyi. Tiwikrama juga membuat kegemparan di Khayangan, Para Dewa juga menjadi khawatir dan segera turun ke bumi untuk melihat Sri Kresna yang sedang marah.

Sampai-sampai Batara Indra dan Batara Bayu hanya dapat menghela nafas dan berkata, "Jika Sang Wisnusudah menampakkan dirinya dan meluapkan amarah, maka seluruh dunia dan khayangan menjadi gempar. Bahkan seluruh kekuatan Dewa, Manusia serta raksasa jika dikumpulkan menjadi satu tetap tidak dapat mengalahkan apalagi menghentikannya..."

* * *

Bersambung...


_______________________________________________________
Sumber Nama: Wikipedia
Sumber Foto: Google/ wayang.wordpress.com
_______________________________________________________

Tulisan - tulisan yang terkait:
- Seri Wayang II - Tiwikrama Sri Kresna Yang Menggemparkan Alam Semesta
- Wayang, Simbol Budaya Indonesia yang Terlupakan
- Batara Kala, antara Sang Dewa dengan Raja Kegelapan...
- Antareja, tokoh manusia terkuat di dunia wayang?
- Arjuna, Ketampanan yang memikat (seribu) Wanita

Senin, 14 Maret 2011

Gadis bernama len...

Sumatera Barat...


len...

hanya tiga huruf kecil
yang selama ini selalu membelenggu hatiku
entah mengapa dalam beberapa tahun belakangan ini
selalu saja terbayang tentang dirimu

Sumatera Barat, 5 Agustus 2008

sungguh, aku sama sekali tidak menduga
bahwa pertemuan yang biasa saja
berakibat luar biasa...

senyum_mu yang manis
tawa_mu yang renyah
dan kerlingan mata_mu
yang terasa indah
meski sedikit sendu...

walau pertemuan itu hanya pertama dan (mungkin) yang terakhir
tapi,
sungguh ku tak menyesalinya...

tiada perjamuan yang tak berakhir:
tiada pertemuan tanpa perpisahan
mengapa harus meratapi perpisahan
kalau mengharap pertemuan?

ataukah dengan perpisahan
kita baru mengerti
akan artinya pertemuan...

atau...

* * *